Institut Ibu Professional My Life

12 Purnama Bahagia Bersama

Teman, kira-kira apa definisi bahagia menurutmu? Kalau menurut widhya, definisi bahagia adalah ketika diri ini bisa berkumpul bersama, bercengkerama, dan saling menguatkan untuk tujuan yang sama.

Dan.. Hanya di kelas Bunda Sayang Batch #3 Offline IPTangSel saya mendapatkan kebahagiaan yang utuh. Setiap bulan kami bersua untuk berbahagia bersama.

Ingat sekali kala itu ketika ada tawaran untuk mendaftar kelas offline, dengan kesadaran penuh, saya memilihnya. Kenapa? Karena saya ini termasuk segolongan orang yang sering ketinggalan kereta chat, bahkan sulit memahami sesuatu hanya melalui membaca. Maka ketika ada pilihan kelas offline, jelas seperti mendapat durian runtuh.

Kelas pertama dimulai 5 November 2017. Waktu itu kakanda beserta dua anak, rela mengantar saya yang masih buta peta Tangsel untuk bersua dan belajar. Apalah saya tanpa kakanda dan kedua anak.

Selama lebih dari 12 purnama itu, kami bertumbuh, berkembang, dan belajar bersama. Mulai dari yang tidak tahu apa-apa menjadi lebih tahu, dari yang tidak paham menjadi lebih paham, dari yang kurang sabar menjadi lebih sabar, dari yang tidak percaya diri hingga menjadi sangat percaya diri, dari yang kurang timbangannya menjadi lebih berisi, dari yang masih berisi hingga semakin menyusut, dan masih banyak lagi. Semua tentu dalam lingkaran kebaikan.

Sungguh bertemu dan mengenal mereka adalah salah satu anugerah dari Allah untuk saya. Terima kasih atas ilmu,  cemilan-cemilun, canda-tawa, serta tangis yang terurai selama 12 purnama ya teman. Kalian saudara ideologis yang bahkan lebih dekat dari saudara biologis. Kita berjalan dengan gerbong ini adalah karena tujuan yang sama. Berikut ucapan dari hatiku untukmu.

Kebahagiaanku, Penyemangatku

Mbak Nani, sang fasilitator yang sungguh luar biasa sabar, humble, dan penuh semangat. Ingat sekali moment pasca laka lantas, mbak nani tetap bersemangat hadir dan mengisi kelas, hingga lukanya kembali terbuka. Mbak nani selalu berhasil memantik energi positif pada setiap pertemuan. Hebatnya, itu cukup sebagai amunisi selama satu bulan berikutnya. Melihatmu menangis kemarin, widhya sungguh terharu. Terima kasih atas semuanya ya mbak.

Mbak Fitri, sang observer yang semangat memberi masukan dari setiap pertemuan. Ternyata kita masih bersaudara, meski jauh. Widhya harus berguru padamu, Mbak. Jangan bosan kalau widhya banyak bertanya ya.

Mbak Sari, sang ketua kelas yang rela menyediakan rumahnya untuk pertemuan pertama. Kudengar mbak sari menemukan jati diri dan ajang improvisasi diri dari Kelas Bunsay ini. Mantab.

Mbak Yunda, sang psikolog andal. Mbak Yunda ini anteng, kalem, dan ayu. Tapi percayalah sekali kata-kata yang diujarkannya pasti sarat makna. Widhya sungguh percaya adanya kekuatan kata-kata berkatmu, Mbak. Buku solo Mbak Yunda pun jadi penyemangat tersendiri untuk diri ini. Semoga bisa sekeren Mbak Yunda suatu saat nanti.

Mbak Ika, sang kinestetik sejati. Luar biasa semangatmu, Mbak. Meski sering tercydux di kelas, meski singset langsing masih diawang-awang, dirimu berhasil menjadi inspirasiku, Kak. Kita berjalan bergandeng tangan ya. Kita tuntaskan ini bersama-sama.

Mbak Wiwik, sang kakak kedua. Dirimu membuatku tak kehilangan Jawaku. Hanya padamu Jawaku tetap bersemi. Komentar yang kau sampaikan selalu pedas, tapi ya seperti itulah seharusnya. Suka.

Mbak Keni, melihat perjuanganmu widhya malu. Apa yang widhya lakoni belum seberapanya Mbak Keni. Percayalah, dengan berkaca dari kisah Mbak Keni, widhya jadi malu hati kalau mau bolos kelas.

Bu Fifi, Ibu inspirasiku. Semangat Bu Fifi hadir di tengah-tengah kami, menjadi pembelajaran tersendiri bagi widhya. Masih banyak hal yang harus widhya tanyakan pada Ibu. Pengalaman Bu Fifi tak diragukan lagi.

Mbak Mala, pertama mengenalmu dirimu tak banyak bicara. Widhya pikir itu karena sifat pemalu. Belakangan baru widhya paham bahwa dirimu akhirnya menemukan kepercayaan diri dari Kelas Bunsay.

Mbak Nandra, terima kasih atas tumpangannya. Widhya senang mengenalmu secara personal. Merasa punya kakak yang ngayomi.

Mbak Nita, alhamdulillah sempat duduk bersebelahan dan berbincang ringan ketika Milad IIP. Itu meninggalkan kesan tersendiri bagi widhya. Aku padamu, Mbak.

Mbak Ventri, Insyaallah masih akan ada pertemuan berikutnya ya. Kita nggak perlu jadi super mom kok, cukup jadi real mom. Dirimu hebat, tetap bersabar membersamai anak-anak meski dengan segala keterbatasan.

Mohon maaf atas segala salah dan khilaf selama kebersamaan. Teman-teman semua unik dengan segala keunikan yang tercipta di dalam diri. Widhya banyak belajar dari semuanya. Semoga kebersamaan ini selamanya, Allah tetap persatukan hati-hati ini, dan Allah perkenankan kita bertetangga di surga.

Percayalah ketika diremove dari group rasanya sedih dan semakin sedih ketika harus mendelete group.

detik-detik remove yang sudah mundur dua pekan dari jadwal yang ditentukan
mau pencet Delete group itu berat

Pertemuan kemarin menjadi farewell atau bolehlah disebut family gathering. Percayalah kami tak ingin menyebutnya sebagai acara perpisahan. Bahkan kami berjanji untuk mengadakan reuni satu waktu nanti. Sekadar untuk bertemu, melepas rindu, dan mengalirkan rasa demi mengelola emosi.

Bagi kami, IIP memang bukan segalanya, tapi bersama IIP segalanya bertumbuh. Kami ‘menemukan’ masing-masing diri berkat perkuliahan di IIP.

Percayalah ini hanya aliran rasa dari seorang Widhya. Masih banyak yang tak bisa Widhya uraikan menjadi kata-kata. Semoga Allah ridho usaha ini terus memperbaiki diri. Itu saja.

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.