Uncategorized

27-12-15 (Part 3)

Serta merta saya ajak lelaki tercekatan di dunia (saya), untuk menghindari lokasi tersebut dan mengajaknya sholat di lokasi lain. Kami pun memutuskan untuk sholat di Masjid Istiqlal. Paass… sekali dengan uyutnya mas QSD yang ingin mencicipi masuk area Istiqlal. Sejenak saya search lokasi Masjid Istiqlal dari android.

Jika menggunakan mobil kami harus menempuh jarak yang lumayan jauh dan waktu yang lumayan lama karena berputar arah serta melalui kawasan yang tampak berwarna merah menyala dari aplikasi. Jika berjalan kaki, kami pikir masih sanggup karena kubahnya tampak begitu jelas di mata kami. Saya menguatkan bahwa saya dulu sering berjalan kaki dari gambir ke monas, lalu ke Istiqlal. Pilihan kami jatuh pada berjalan kaki.

Ihihi,,, bagi saya tak seberapa jauh, saya menikmatinya. Anggap saja itu saat yang pas membakar kalori, hehe.. Tapi tidak bagi nenek, uyut, dan ateunya mas QSD. Perjalanan dari monas ke Istiqlal terasa sangat jauh bagi mereka. Mereka tampak sangat kelelahan sesampai di Istiqlal. Sampai siang ini nenek, uyut, dan ateunya mas QSD mengeluh kakinya masih berasa keju. Mohon maafkan saya. Rupanya standar jauh dan dekatnya kami berbeda *tutupmuka.
image

Uyut dan neneknya mas QSD berpose di depan plang bertuliskan Masjid Istiqlal. Alhamdulillah,, meski lelah tetap bungah bisa kuat berjalan kaki sejauh itu. “Sungguh,, maafkan saya yah uyut, neni…”

Sesampai di kawasan Istiqlal, saya yang memang belum sholat ashar langsung menuju ke area wudhu yang juga bersebelahan dengan area toilet. Saya hanya bisa mengurut dada untuk bersabar. Bagaimana tidak?! Kamar mandi yang tersedia jumlahnya kurang memadai dengan jumlah pengunjung. Sehingga ketika jam sholat tiba, satu kamar kecil bisa diantri oleh 7-10 orang untuk tujuan yang sama, buang air. Akhirnya saya pun mengurungkan niat untuk masuk kamar kecil.

Belum lagi kondisi lantai yang licin dan kotor membuat saya harus benar-benar berhati-hati melangkahkan kaki. Di ujung pintu keluar ada seorang ibu paruh baya yang berkata “Seikhlasnya.. Seikhlasnya” rasanya membuat banyak jamaah perempuan gemreneng memberikan uang, tapi kebersihan tak terjaga. Ahh,, sudahlah..

Cerita Masjid Istiqlal ditutup dengan menaiki dua bajai untuk kembali ke parkiran Monas lalu kembali pulang. Sejujurnya saya kasihan dengan nenek, uyut, dan ateunya mas QSD. Andai saya berjalan kaki lagi insyaallah masih kuat. Sesampai di parkiran,, taraaaaa…. mobil kami terkunci rapat tak bisa maju apalagi mundur.

___ to be continue

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.