Uncategorized

27-12-15 (Part 4)

Tiga tukang parkir perempuan yang sebelumnya menodong kami Rp30.000,00 tadi, sudah tak tampak sama sekali batang hidungnya. Posisi kendaraan kami berada paling di dalam. Di belakang kendaraan kami berturut-turut terios, avanza, dan stream. Tiga-tiganya tidak terkunci tangan. Tapi di sebelah kiri dan kanan ini terparkir cantik dua kendaraan dengan space yang sangaaaat tipis.

Teringat pikiran yang tadi saya coba tepis jauh-jauh. Sepertinya saya terlahir dengan itu. Saya seolah bisa ‘sekedar’ merasa apa yang akan terjadi kemudian sebelum waktunya tiba. Saya tidak bilang ini adalah sixth sense. Saya rasa ini semacam feeling atau intuisi atau apalah namanya yang semua orang pasti pernah merasakan, yang pada beberapa orang sangat kuat apabila diasah.

Saya pikir itu hanya pikiran buruk yang harus saya tepis jauh-jauh, saya tak ingin mengucapkannya khawatir malah benar akan kejadian. Eeehhh,, malah semuanya kejadian. Fyuh… Mulai dari parkir di Stasiun Gambir yang jauh lebih ‘manusiawi’, yang kami kena getok ongkos parkir di pinggiran kawasan Monas, yang kendaraan kami akhirnya dipepet demi meraup keuntungan lebih, yang kami berjejalan di lorong masuk Monas, dan yang akhirnya posisi tidak menguntungkan kendaraan kami membuat kami tertahan hampir satu jam lamanya.

Saya sudah berinisiatif memberikan alternatif untuk nenek, uyut, dan ateunya mas QSD kembali ke Pondok Aren menggunakan taksi, lalu saya dan lelaki terkece di dunia (saya), menunggu hingga parkiran longgar baru kami pulang. Tapi inisiatif saya ditolak. Sejujurnya saya tak tega pada nenek, uyut, dan ateunya mas QSD yang sudah beraktivitas dari subuh hari hingga sore hari pastilah lelah, ingin segera istirahat, dan bersantai di (kontrakan yang kami sebut) rumah.

Kembali ke parkiran, saya dan kakanda berulang kali berpikir bagaimana caranya supaya kendaraan kami bisa keluar dari jerembab ini. Maju tak bisa, mundur apalagi. Saya coba dorong satu per satu kendaraan di sekitar kendaraan kami mana yang sekiranya tidak di rem tangan, sampai neneknya mas QSD ngelingke saya “wis mbak gak usah, wetengmu” artinya sudah mbak nggak usah, perutmu. Tapi hasilnya nol.

Saya semakin bingung, karena hari sudah semakin gelap. Sudah mutung rasanya, tapi saya tahan-tahan. Sabar… Insyaallah ada jalan, sambil berpikir keras, sambil bibir tak hentinya ndremimil “mudahkan mudahkan mudahkan”. Kalau Allah berkehendak, tak ada yang tak mungkin. Saya lihat ada beberapa keluarga yang juga bernasib sama. Mereka pun memaju-mundurkan kendaraan di sekitarnya demi untuk agar supaya kendaraannya bisa keluar dan menerobos keluar menuju destinasi selanjutnya.

Saya mencoba membantu mereka semampu saya memikirkan dan urun rembug. Saya hanya memundurkan kendaraan-kendaraan di sekitarnya yang sekiranya bisa sedikit membuka jalan untuk kendaraan-kendaraan yang akan keluar. Daaannnn… Walaaaa…. Beberapa saat ditengah kebingungan dan keresahan dan kelelahan dan kepusingan dan kemutungan yang mendera, pemilik kendaraan putih yang parkir tepat di sebelah kanan kami pun datang.

Dengan mudah saja setelah kendaraan tersebut bergeser sedikit saja, kendaraan kami pun bisa ikut keluar dari jerembab tersebut dan perlahaan meninggalkan parkiran yang menyisakan sesak, penat, lelah, dan kawan-kawannya lah pokoknya mah. Alhamdulillah… Entah dengan bagaimana, intinya kami bisa melanjutkan perjalanan pulang.

___ to be continue

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.