Uncategorized

Aliran Rasa Keseharian Widhya

Hari ini mencoba mengalirkan rasa apa yang widhya rasakan sejak pagi.

Bagun tidur merasakan hidung mampet dua-duanya. Sudah sejak dua tahun terakhir sinus ini sungguh mengganggu keseharian widhya. Februari 2020 pernah sekali waktu berobat. Oleh dokter disarankan untuk konsumsi obat dulu.

Saat itu, Dokter spesialis THT sudah menyampaikan untuk kembali lagi setelah dua pekan. Belum sempat kembali, rupanya covid sudah mulai menyebar dan diberlakukan PSBB sejak tengah Maret.

Akhirnya menyerah dengan kondisi. Sampai hari ini belum berobat tuntas soal sinusitis. Jika pandemi dinyatakan berakhir, saya akan langsung menuntaskannya ke dokter THT.

Memangnya semengganggu apa? Sangat mengganggu. Saya sudah banyak bernafas dengan mulut. Saya sampai lupa rasanya bernafas dengan hidung. Lebih-lebih jika sedang tidur. Ketika bangun bisa dipastikan langit-langit mulut dan tenggorokan rasanya kering sekali. Doakan sembuh tanpa harus ke THT ya. 

Saya mendengar suara dua anak di depan pintu kamar membongkar mainannya. Yah berhubung hari ini tanggal satu bulan baru, jadi harap maklum. 

Kami dan anak-anak di rumah punya kesepakatan bahwa mereka berhak membeli mainan. Harga dan jenisnya mereka sepakati bersama kakanda. 

Banyak kesepakatan di rumah kami. Salah satunya ya itu. Membeli mainan hanya di tanggal satu setiap bulan dengan besaran harga tertentu sesuai kemampuan kami. 

Kata abah ihsan, setiap satu kebebasan ada satu batasan. Dalam hal memilih mainan, anak-anak bebas memilih jenisnya. Batasan dari kakanda hanya besaran harganya. 

Saya sudah sampaikan ke kakanda untuk mulai mengurangi ritme membeli mainan. Tapi kakanda masih menikmati masa ini. Kata kakanda, “Nanti pasti ada masanya mereka bosan. Habiskan aja duku argonya sampai bosan.” 

Baiklah. 

Mendengar dua anak heboh merakit mainannya, saya juga mulai heboh di dapur. Menyiapkan sarapan untuk seluruh warga di rumah dengan sarapan yang cepat. Hanya ceplok telur dan pecel sayuran untuk kakanda.

Selesai menyiapkan sarapan, saya menyiapkan dua anak untuk aktivitas bersekolah. Walaupun online, anak-anak tetap perlu pengondisian. Mandi dan sarapan utamanya sih.

Selesai mandi dan sarapan, saya menyiapkan room zoom untuk mas Q. Setiap hari aktif sekolah, ada opening dari para fasilitator dengan menggunakan room zoom. Hal ini dimaksudkan supaya bonding dengan fasilitatornya terbangun baik dan anak-anak terkondisi untuk sekolah.

Tapi tetap eksekusi pembelajaran dikembalikan ke orang tua. Sesuai dengan jadwal orang tua di rumah. Tidak semua anak kondisinya seperti mas Q dan dek Q yang ibunya di rumah. Konsep belajar di sekolah anak-anak kami adalah home based learning. 

Apa bedanya dengan school from home? Menurut saya sih banyak bedanya. Nanti deh saya tuliskan lebih rinci di tulisan yang lain. 

Selesai urusan mas Q masuk ruangan zoom, lanjut mengondisikan dek Q qiroati. Selesai dek Q qiroati, saya mendampingi mas Q. Selesai mas Q lanjut mengantar ekoterapi dek Q ke sekolah.

Pokoknya sehari-hari ya begitu itu kondisinya widhya. Dari satu urusan ke urusan yang lain. Bergantian mendampingi mas Q dan dek Q adalah tugas utama widhya. Selebihnya hanya sambilan. 

Tetap semangat untuk para ibu. Main course orang tua adalah memang mendidik anak. Sementara pekerjaan adalah dessert atau appetizer saja. Begitu kata Ustaz Adriano Rusfi.

Kalau ibu-ibu bagaimana sehari-hari? Diskusi yuk.

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.