Uncategorized

Apa yang Kamu Inginkan dalam Hidup Ini

Malam ini mencoba merefleksi diri. Apa sih yang sebenarnya kamu inginkan dalam hidup, Widh?

Semua bermula sejak mengikuti kelas Ustaz Harry Santosa Hasan. Saya lupa kapan tepatnya melakukan pendaftaran. Mungkin sekitar bulan Agustus. Waktu itu saya melihat e-flyer di sosial media tentang kelas Takhassus Fitrah World Movement.

Sebenarnya mengikuti materi-materi Ustaz Harry sudah sejak lama. Tapi baru sebatas kajian-kajian lepas saja. Tahun 2018 sudah punya buku FBE Ustaz Harry. Sejak saat itu keinginan untuk belajar dalam tentang FBE (Fitrah Based Education) menguat.

Mengingat buku FBE ini sangat tebal dan sangat logis, lebih cocok diikuti oleh para ayah sesungguhnya, maka saya benar-benar berazzam untuk menyiapkan diri. Pepatah mengatakan, saat murid siap, guru akan datang. Maka tugas saya sebagai murid sudah jelas adalah menyiapkan diri.

Sejak 2018 itu sudah mulai ikut-ikut kajian FBE, sudah mulai menyimak-menyimak tulisan. Tapi belum sampai berjodoh mengikuti kelas runutnya Ustaz Harry. Baru pada Agustus 2020, Allah menggerakan saya, menunjukkan jalan untuk widhya mengikuti kelas takhassus ini.

Sebelum kelas, saya sudah berazzam kuat untuk mengikuti semaksimal mungkin. Materi diberikan selama dua belas pekan utuh dengan hampir tiga bulan pendampingan. Setidaknya ada delapan kali webinar dan tiga kali workshop. Semuanya dilakukan secara daring.

Inilah satu hal yang sangat saya syukuri dari pandemi. Allah mudahkan kita semua untuk belajar. Jarak dan waktu tidak menjadi penghalang seseorang untuk belajar.

Terbukti dengan hadirnya kelas takhassus virtual ini, sungguh memudahkan sekali. Pesertanya tidak hanya dari warga penghuni di bagian barat waktu Indonesia, tapi juga dari bagian tengah, dan timur. Ada juga yang tinggal di Amerika, Korea, Jerman, Inggris.

See, jarak dan perbedaan waktu tidak menjadi penghalang. Tinggal kembali ke kita.

Alhamdulillah saya dapat menyelesaikan semua perkuliahan dengan baik, mengumpulkan dua belas penugasan, meski saat kelas Ustaz Harry berbarengan dengan kelas Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional.

Berat? Tentu saja berat. Nggak ada yang bilang ringan. Kakanda tahu betul perjuangan widhya setiap Rabu malam hadir di dua kelas bersamaan melalui dua perangkat berbeda. Hari Jumatnya mengulang menyimak materi di satu kelas, hari Sabtu mengulang menyimak materi di kelas yang lain lagi, hari Ahad mulai mengerjakan jurnal kelas Ustaz Harry, dan hari Senin mengerjakan jurnal kelas Bunda Cekatan.

Sebegitu sibuknya? Iya, saya memilih sibuk, karena saat saya tidak sibuk itu menjadi luntang-luntung tak tentu arah. Mending waktu saya habiskan untuk mengikuti kelas-kelas begitu. Dari satu kelas ke kelas yang lain lagi. Saya menikmati masa menerima penjelasan juga masa membuat resume dan jurnal.

Semakin hari merasa semakin senang belajar hal-hal baru. Bukan untuk gaya-gayaan, bukan. Semua saya lakukan justru karena semakin mengikuti kelas begitu, malah merasa semakin tak tahu banyak hal, semakin tak memahami banyak hal. Jadi belajar online ini menjadi salah satu solusi yang saya pilih untuk memantaskan diri mendampingi kakanda yang tahu banyak hal.

Kenapa widhya memilih Ustaz harry? Banyak alasan. Tapi sejak pertama mengikuti kelas matrikulasi 2017 lalu, saya merasa berbinar setiap mendengar kata pembelajaran berbasis fitrah. Semakin mencari tahu semakin merasa ingin tahu.

Tahun 2018 sempat mengikuti seminar yang menghadirkan Ustaz Harry sebagai pemateri dalam milad Ibu Profesional Tangerang Selatan. Kesempatan ini sungguh semakin membuat saya menggebu-gebu ingin lebih tahu banyak tentang FBE. Tahun ini pula saya membeli buku FBE dan membaca minimal satu halaman setiap hari.

Tahun 2019 alhamdulillah berkesempatan push teman-teman di komite sekolah TK mas Q untuk menghadirkan Ustaz Harry dalam kajian parenting sekolah. Senang sekali rasanya berhasil mengajak teman-teman semakin melek tentang FBE ini. Saya membuat resumenya juga kalau nggak salah di sini.

Alhamdulillah tahun 2020 Allah izinkan widhya belajar secara intensif dan dengan pendampingan bersama Ustaz Harry langsung. Ustaz Harry menjelaskan benar-benar secara gamblang, secara terperinci, dan yang paling penting kita diajak merenung dan mengubah pola berpikir.

Selama ini anggapan-anggapan saya tentang tumbuh kembang anak, ternyata banyak salahnya. Saya kasih satu contoh ya. Sejak kecil kita dengar bahwa anak itu kertas kosong yang bisa digoreskan dengan apapun tergantung orang tuanya mau menggoreskan warna apa, gambar apa, atau dengan cara apa.

Pasti pernah mendengar kan kalau anak-anak itu terlahir fitrah. Fitrah itu bersih, bersih itu suci, suci itu kertas kosong. Padahal bukan itu makna fitrah. Ternyata konsepnya tidak demikian. Suci bersih dalam islam bukan kertas kosong. Konsepnya, anak terlahir sudah membawa kebaikan-kebaikan yang suci dari Rabb SWT.

Salah pandang tentang ini, akhirnya membuat kita (eh saya) sebagai orang tua, begitu anak lahir langsung ingin dijejali dengan berbagai macam hal. Karena berpikir kosong itu tadi dan harus digegas. Maka muncullah teori-teori barat yang menggegas anak.

Materi seperti ini baru widhya dapatkan dari kelas Ustaz Harry lho. Dan banyak lagi materi-materi yang lainnya. Semoga lain waktu saya bisa membagikan sedikit materinya secara lebih holistik.

Dari kelas Ustaz Harry tersebut pula saya semakin memaklumi bahwa setiap manusia itu mengalami keresahan menjelang 40 tahun. Ini saya sekarang berada di fase resah ini nih. Apa sih yang saya perjuangkan sebenarnya? Apa sih yang ingin saya kejar dalam hidup ini sebenarnya? Hal ini pula yang ternyata sudah dirasakan oleh Rosulullah dahulu kala.

Banyak takjub dengan penuturan-penuturan Ustaz Harry widhya sih. Masuk di logika dan perasaan saya gitu. Satu hal, bahwa setiap manusia terlahir dengan membawa misi spesifik hidupnya. Fitrahnya harus mengantarkan pada peran peradaban terbaiknya, dengan semulia-mulianya adab dan dipandu kitabullah.

Semua cerita pendidikan harus arah fitrah, peran terbaik, dan adab yang mulia. Bagaimana supaya anak-anak memiliki peradaban terbaik atau insan kamil, ini tugas pendidikan. Saat widhya mengatakan pendidikan itu bukan sekolah ya. Makna pendidikan sendiri juga menyempit sekarang ini. Atau bagaimana supaya anak-anak bukan sekedar human doing tapi human being. Lalu juga saat seseorang menjadi manusia yang paripurna dan fitrahnya tumbuh.

Ini yang masih widhya pelajari lagi. Jadi seandainya saat ini ada pertanyaan, apa yang diinginkan dalam hidup. Maka dengan tegas saya bisa menjawab bahwa yang saya inginkan adalah menuntaskan serta menumbuhkembangkan fitrah anak-anak sembari menuntaskan dan menumbuhkembangkan fitrah diri.

Raise your child, raise yourself.

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّة َاِلَّا باِللهِ

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.