Uncategorized

Bubur Kacang Hijau

Sarapan bubur kacang hijau adalah kegemaran mas Q sejak usia dua tahunan. Kami tinggal di Pondok Aren, Tangerang Selatan. Kampung kecamatan dengan sembilan kelurahan. Namanya di kampung, jajanan gerobakan masih sangat mudah kami temui.

Beberapa penjual keliling yang masih sering saya temui ada penjual kue pancong kalau pagi hari, lalu jagung grontol, kue ape, getuk gerobakan, dan tentu saja kacang hijau. Semua makanan kampung kan.

Biar kata hanya lima menit dari peradaban kota Bintaro, tetap saja kami tinggal di kampungnya. Harga tanah di Bintaro sudah selangit. Jadi ya kami minggir sedikit.

Hari ini saya mau cerita tentang pedagang kacang hijau keliling ini ya. Bubur kacang hijau sebenarnya bisa juga kalau mau buat sendiri di rumah. Tapi saya dan kakanda terlanjur punya standar tinggi soal rasa bubur kacang hijau. Beberapa kali membuat sendiri, tiada yang seenak buatan si bapak.

Bapak ini saya melihatnya sejak 2015an, hingga hari ini masih berjualan lho. Istiqomah pisan. Sebelum pandemi, hampir setiap hari sabtu dan ahad mas Q minta sarapan bubur kacang hijau. Sabtu atau ahad pagi pasti sowan ke si bapak. Biasanya beliau mangkal di depan gerbang belakang kampus STAN.

Itu saya tahu si bapak sejak tahun 2015, tapi kabarnya si bapak sudah jualan bubur kacang hijau sejak jaman mudanya. Bubur kacang hijau si bapak ini istimewa. Beda sama bubur kacang hijau lainnya.

Saya sudah mencicipi berbagai macam bubur kacang hijau keliling di sini, tapi nggak ada yang seenak buatan si bapak. Asli. No tipu-tipu club lho ini.

Kalau boleh widhya deskripsikan, bubur kacang hijau buatan si bapak bisa lembut, dengan kekentalan yang pas. Tingkat kemanisannya sangat bisa ditoleransi oleh saya yang kurang hobi makanan manis. Rasa gurih dari percampuran santannya terasa merata dengan si kacang hijau.

Ini saya menuliskan sambal terbayang-bayang kelembutan dan rasanya.

Saya pernah mengumpulkan cerita tentang si bapak. Jafi si bapak ini kabarnya pakai resep turun temurun. Saat membuat bubur dedikasi penuh beliau curahkan. Mulai mencuci kacang hijau hingga berkali-kali supaya kulit cangkangnya terkelupas. Lalu merendamnya semalaman dan memasaknya sepenuh hati. 

Ketika pagi saya membeli, bubur kacang hijau selalu tersaji hangat. Enak ke perut. Makanya mas Q suka.

Belakangan saya memikirkan si bapak. Cuaca Pondok Aren yang hampir setiap pagi hujan begini, bagaimana jualannya? Apakah laris? Apakah ada pembeli? 

Si bapak biasa mangkal di pinggir jalan di seberang distributor bright gas Pondok Aren, dekat dengan pintu masjid Asy-Syuhada. 

Kami sulit berpindah ke lain hati, karena selain buburnya enak, si bapak sangat lembut, dan insyaallah amanah. Beliau pernah bilang, bubur buatannya nggak pakai pemanis buatan. Dan ketika saya membandingkan dengan kang bubur lainnya, beneran rasa manisnya beda. 

Bedainnya gimana? Berhubung widhya nggak terlalu hobi yang manis, jadi palet lidah widhya bisa membedakan mana yang gula asli, mana yang ditambah pemanis buatan. Heu. 

Sejak pandemi, beliau Cerita mengurangi porsi jualannya. Senangnya widhya, beliau rapat menggunakan masker saat melayani. Dimana sekarang ini banyak orang yang sudah mulai abai, tapi si bapak masih bersabar menggunakannya. 

Teman-teman yang di Pondok Aren, yuk dilarisin. Semoga bapaknya sehat terus jadi bisa jualan terus.

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.