Memasak Review

Bumbu Instan Partner Kerja di Dapur

Sejak kecil saya suka memasak. Masakan pertama saya yang menuai sukses besar adalah telur dadar. Bukan ceplok. Saya memperhatikan ibu saat membuat ceplok, ada minyak yang muncrat-muncrat. Jadi khawatirlah. Namanya juga anak kelas tiga SD. Bukan pula mie instan. Saya bisa masak mie instan sendiri itu lepas kelas lima SD kalau tidak salah. Lupa. Hihihiā€¦

Saya adalah anak manja. Sejak kecil apa yang saya mau, hampir selalu terpenuhi, meski kadang kala membutuhkan waktu. Kedua orang tua saya sibuk bekerja, akhirnya sejak kecil saya lebih banyak bersama asisten rumah tangga. Nah,, tau kan ya gimana ART ke anak majikan. Intinya, saya banyak dilayani. Ingin makan, yaa sudah tersedia. Hingga saya tidak tahu repotnya memasak.

Lanjut. Masakan kedua yang lagi-lagi menuai sukses adalah nasi goreng. Ayah saya sampai memuji masakan saya kala itu. Bangga tak terkira dong. Itu nasi goreng, asli saya uleg sendiri bumbunya, menuang sendiri minyaknya, memecah sendiri telurnya. Tanpa bantuan si mbak. Semua hasil racikan tangan saya. Anak yang tidak tahu repotnya memasak, lalu dapat pujian. Uuhh,, bahagia.

Sejak saat itulah kepercayaan diri saya muncul. Saat ini memasak sudah menjadi kewajiban bagi saya. Kalau sehari saja saya tidak menyalakan kompor, perut orang serumah bisa dipastikan tidak terjamin. Meski hanya menggoreng sebutir telur, tetap pasti ada saja yang saya lakukan dengan kompor.

Kini, saya tahu betapa repotnya menyiapkan menu, memasak, menghidangkan, hingga memastikan makanan yang saya sediakan masuk ke dalam perut penghuni rumah. Apalagi pagi hari kakanda harus berangkat dengan membawa bekal untuk sarapan dan makan siang. Repot nggak sih? Awal-awal dulu, iya repot. Jelas! Makin hari semakin terbiasa. Kerepotan yang dulu kerap muncul, sudah bisa tertangani. Saya sudah menemukan ritmenya.

Saya ingat pesan seorang ummahat. Zaman sekarang ini tidak ada yang susah. Asal punya kemauan dan semangat, semua bisa teratasi. Betul juga. Saat ini mau masak apa saja bisa. Bumbu instan tersedia dalam berbagai rasa dan jenis yang awet. Terlepas ada atau tidaknya efek jangka panjang yang mungkin timbul, tapi saya membenarkan bahwa bumbu instan ibarat partner kerja di dapur. Bumbu instan itu memudahkan mamah-mamah muda dalam berkreasi di dapur.

Suatu hari, saya melihat post dari akun instagram @bumbu.bude tentang bumbu dasar instan. Kebetulan ownernya teman saya di grup whatsapp Rumah Main Anak. Sayapun penasaran dan tanya-tanya dong. Ownernya sendiri memastikan bahwa bumbu instan buatannya bebas MSG. Nahini, sesuai dengan maunya saya.

Hari itu juga saya langsung memesan bumbu bude instan dengan varian bermacam-macam. Ada soto, gulai, rendang, dan tongseng. Dua hari kemudian, pesanan yang sudah ditunggu akhirnya datang. Bumbu pertama yang saya eksekusi adalah varian soto. Rasanya beneran ciamik. Sesuai dengan lidah kami dan yang paling penting bebas MSG nya itu. Insyaallah aman untuk anak-anak.

Beberapa waktu berlalu, saya penasaran mencoba bumbu gulai. Lagi-lagi rasanya pas untuk saya dan kakanda. Sangat bisa memenuhi ekspektasi kami. Oiya, bumbu bude ini selain bebas MSG, ternyata homemade. Dibuat dengan bahan-bahan terpilih. Nilai lebihnya lagi, bumbu bude ini menggunakan bahan pengawet alami yang berasal dari rempah seperti serai. Penasaran kan? Yuk yuk dicoba. Saya sih absolutely say yes for bumbu bude.

#30harimenulis
#onedayonepost
#hari9

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.