My Life Parenting

Cerita Mamak Terima Rapot

Sejak senin pagi, orang tua murid siswa siswi Play Group Baitul Maal mendapat surat edaran. Isi surat tersebut adalah pemberitahuan bahwa selama satu pekan ke depan, akan ada laporan perkembangan hasil belajar. Bahasa gampangnya, semacam laporan bayangan gitu lah ya.

Waktunya sudah disediakan dan diatur oleh setiap wali kelas. Orang tua bebas memilih tanggal dan waktunya dalam pekan tersebut. Dari waktu yang disediakan, saya memilih hari jumat, 6 April 2018 pukul 11.15 WIB.

Saat memilih jadwal tersebut, hati sudah mulai berdebar-debar tak menentu. Ada secuil perasaan yang tak mampu dideskripsikan. Antara khawatir, atau gembira, atau takut. Entahlah. Sedikit kompleks.

Hari selasa berlalu, rabu, dan kamis pun berlalu. Tibalah hari yang dinanti-nanti. Seperti biasa saya berangkat dari rumah untuk menjemput si mas pulang sekolah. Tapi kali ini suasananya lain.

Setelah sampai, dikabarkan bahwa sejak pukul 10 pagi, sekolah sedang padam listrik. Pelaporan hasil belajar mungkin akan sedikit terganggu. Tak berapa lama, saya dipersilakan masuk ke dalam ruangan yang telah disediakan.

Menurut hasil pengamatan ibu guru, selama di sekolah perkembangan si mas menunjukkan hasil yang sesuai dengan usianya. Dilaporkan semua berwarna biru. Tidak ada yang memerlukan perhatian khusus. Jika ada, pasti akan dituliskan dalam warna kuning atau merah.

Alhamdulillah semua sesuai tahapan usianya. Mungkin nanti jika sudah naik ke tingkat TK, akan berbeda lagi tahapan yang harus dilalui. Di sekolah si mas termasuk anak yang ceria, menuruti hampir semua rules yang diberikan, mudah berempati pada teman-temannya, selalu fokus saat mengerjakan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya, dan masih banyak lagi.

Ada saatnya si mas tampak tidak ingin mengikuti kegiatan bernyanyi atau berdoa. Tapi ia tidak memberontak. Hanya duduk diam sambil mengamati. Yaahh,, begitulah anak-anak.

Ada satu hal yang membuat saya terhenyak mendengar laporan dari ibu gurunya. Si mas bukan tipe anak yang suka melaporkan atau mengadukan apa yang dirasakan maupun dilihatnya.

Satu contoh, saat terjatuh. Mungkin ia merasakan sakit. Tapi diam saja. Ketika ditanya oleh ibu guru, “Apa ada yang sakit?” maka si mas hanya menjawab, “Tidak. Aku baik-baik saja” sambil menahan rasa sakit. Padahal bisa saja dia mengatakan sakit.

Lalu diceritakan juga, beberapa kali si mas tampak ingin meminjam mainan yang dipegang oleh temannya. Tapi ia hanya melihat saja tanpa berani mengutarakan maunya pada si teman. Padahal ia bisa saja mengatakannya. Mungkin karena ia punya trauma pernah dicakar oleh temannya.

“Dari sosialnya, dia cukup pengertian dengan teman-temannya. Sering mengajak bermain teman-teman. Lebih banyak mengalah kok, Bun”, begitu laporan penutup dari ibu guru. Sungguh mendengar laporan demi laporan tersebut saya merasa nyesss. Kekhawatiran saya selama ini salah.

Saya khawatir si mas tidak bisa mengikuti apa yang diinstruksikan oleh para guru, tidak bisa mengikuti rules, tidak mau berbagi, tidak mau menyelesaikan tanggung jawabnya, tidak bisa fokus, dan kekhawatiran-kekhawatiran lainnya. Ternyata semuanya tidak terbukti. Ahh,,, dasar kamu, Widh, mamak-mamak lebay! Baru segitu saja sudah banyak khawatir.

Setiap ibu pasti menginginkan yang baik-baik bukan? Begitu pun dengan saya. Tapi sungguh, dari hati terdalam, jauh sebelum hasil ini diberikan oleh ibu guru, saya telah siap dengan hasil terburuknya.

Namanya anak-anak masih susah diarahkan, itu wajar. Susah mengikuti rules itu pun wajar. Marah-marahan, nangis-nangisan, pukul-pukulan, itu semua hal wajar. Justeru dari situ si anak akan belajar.

Itu dia hasil perkembangan belajar si mas selama tiga bulan terakhir. Tolong jangan judge saya anak masih empat tahun sudah disekolahkan ya. Plis plis plis. Ini murni hanya curhat ala mamak kok…

#30harimenulis

#hari3

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.