Menulis My Life

Cuma Iseng Kok!

Bila ada angkutan bus jurusan kampung iseng, pastilah saya termasuk salah satu penumpang setianya. Sejak masa sekolah dasar dulu, bisa dibilang iseng menjadi sebuah kebiasaan. 

Tanyakan pada perempuan yang melahirkan saya, begitu sering beliau menerima laporan dari ibu guru, tentang betapa iseng anaknya yang tsantik ini. Pernah lho menelepon interlokal ke sanak saudara di Jakarta dari Solo melalui telepon sekolah.

Bayangkan, anak berusia belum genap 10 tahun, berani meminta izin masuk ruang kepala sekolah untuk melakukan panggilan itu, komentar saya adalah luar biasa. Melakukan sambungan jarak jauh pada tahun 1998 tidak semudah sekarang ya.

Seingat diri, kala itu saya tidak berbohong, hanya tidak berkata yang sejujurnya. Mohon dibedakan ya. Berbohong itu memutar balik fakta demi menutupi sesuatu, kalau tidak berkata jujur itu tidak menyampaikan semua maksud dan tujuan secara gamblang. Anak 10 tahun lho. Berkat apa? Berkat iseng, Kawan!

Pernah semasa sekolah menengah pertama, dikeluarkan dari kelas saat jam pelajaran fisika. Seingat diri, kala itu memang saya ngrasanin si ibu guru pelan-pelan, yang menthel dan killer, karena terus menerus mengibas-ngibas rambutnya syahdu. 

Namun nahas, volume suara yang menurut saya sudah pelan tadi, mungkin terdengar olehnya yang sedang menerangkan di depan kelas. Jarak bangku dengan si ibu, tidak lebih dari dua meter. Beliau memberi dua pilihan, saya keluar kelas atau beliau yang keluar.

Sudah pasti pilihannya bisa ditebak. Saya yang keluar kelas. Gentle dong gue. Haha,, berkat apa? Berkat iseng!

Pernah suatu masa di sekolah menengah atas, tertangkap basah oleh guru BK menggunakan seragam junkies yang sempat populer pada masanya. Untuk ukuran anak rohis, saya adalah satu-satunya member yang mbalelo.

Anak-anak rohis itu identik dengan otak jenius, seragam rapi jali dimasukkan, menggunakan gesper. Sementara saya jauh dari kata jenius, lalu sengaja membuat baju dengan panjang secukupnya. Asal tetap aman jika harus angkat tangan saja. Supaya nggak perlu repot-repot memasukkan ke dalam rok dan tanpa perlu memasang gesper. Bakat pemalas sudah timbul. 

Saya sengaja memilih jalan melewati guru BK yang sedang melakukan inspeksi dadakam. Dan, teguran itupun mampir juga di telinga. Hahaha… itu berkat apa, Kawan? Lagi-lagi berkat iseng!

Ck,,, baru sadar suram betul masa sekolah saya dulu.

Nah, semasa kuliah, saya pernah berani menaruh hati pada seseorang yang bahkan belum pernah bertemu. Dalam doa saya berucap, “Baiklah bila tidak berjodoh di dunia, semoga berjodoh di akhirat”. Sampai detik akhir menjelang akadpun, namanya masih ada. Ups! Berkat apa? Juga berkat iseng.

Jadi kalau siang ini tiba-tiba terlintas untuk ngepoin doi, pun berkat sebuah iseng. Makin percaya pada sebuah kalimat, “Berkat kepo dan iseng setitik, rusak move on selamanya”. Wahahaha,,, parah kamu, Widh!

Keisengan ini memang lebih sering berujung pada sesuatu yang membuat hati gerimis. Iya bukan hanya mendung, tapi gerimis, bahkan sampai banjir, mengingat dosa dimasa lalu. Dosa yang menggunung berkat iseng belum berkurang, sudah ditambah lagi sama dosa dari iseng-iseng yang lain. Pheefww…

Makanya, Teman, jangan pernah dekat-dekat sama iseng deh. Apapun judulnya, yang namanya iseng itu, ujungnya pasti akan tak terduga. Sesuatu yang sudah direncanakan saja seringkali berujung kejutan, apalagi hal yang tak direncanakan semacam iseng ini.

Pesan pada diri, wabil khusus pada generasi alpha – yang semua serba cepat -, hindari sebuah perkara yang dimulai dari niat iseng. Percayalah padaku, akan banyak risiko yang timbul dari perkara berjudul ‘cuma iseng kok’.

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.