Menulis Parenting

Curhat Bekal Si Mas

Hari ini mau cerita sedikit soal bekal. Ahh,, kamu Widh. Ceritanya soal perbekalan terus deh! Ehehe,,, yang bosan, boleh diskip. Sesimpel itu.

Jadi sebenarnya sejak dua pekan lalu, perbekalannya kakanda dimulai kembali, sesering itu pula pertanyaan datang. Pertanyaannya seperti ini: ‘Mbak, nggak bawakan bekal untuk mas Qean?’ atau ‘Mbak, Mas Qean ke sekolah nggak bawa bekal?’ atau yang semacam ini ‘Wong abinya saja dibawakan bekal, masa anaknya enggak’.

Oh alhamdulillah… sungguh saya berterima kasih atas pertanyaan yang dilayangkan. Artinya itu adalah sebuah perhatian.

Jadi kemarin selama Playgroup, si mas pulang jam 11 siang. Selama di sekolah ada satu kali snack time sekitar 15 menit. Yang sudah-sudah, saya biasa membawakan camilan. Namanya camilan yaa makanan ringan. Pernah juga saya membawakan nasi kepal diisi abon, yang kata ibu gurunya kala itu, jadi bahan rebutan dengan teman-temannya. Bisa juga bebuahan yang mudah ditemui, jagung rebus, rerotian, atau makanan kemasan.

Yaa, di sekolah si mas – alhamdulillah – diperbolehkan membawa makanan kemasan selama itu berlabel halal dan bukan jenis chiki-chikian. Mmm sejauh ini, si mas sendiri paham mana yang boleh dan mana yang tidak.

Nah, sejak jadi kakak TK diawal tahun ajaran ini, si mas pulang pukul 12.30 WIB. Sebelum masuk sekolah, para orang tua dan wali murid ditambahkan ke sebuah grup whatsapp. Lalu kami ditawarkan apakah ananda akan mengikuti program katering atau tidak. Sayapun rasan-rasan bersama kakanda. Tak lupa mendengarkan pendapat si mas. Namun hasil diskusi bersama, kami memilih dan memutuskan untuk mengikuti katering. Ada beberapa alasan.

Pertama, saya dan kakanda khawatir jika si mas merasa kecil hati karena menu makanannya tidak seragam dengan teman-temannya. Ada pula ketakutan, bagaimana kalau teman-teman di kelasnya malah mupeng bekal yang saya bawakan untuk si mas, ketimbang makanan yang disediakan pihak katering. Ahh,, namanya juga mamak-mamak.

Alasan kedua, kami perbanyak sounding pada si mas, bahwa makanan yang disediakan dari katering harus dihabiskan. Bukan soal jumlah uang yang hilang, tapi supaya si mas lebih bisa bersyukur atas apapun yang tersaji. Yaa, belajar bersyukur. Alhamdulillah sejak hari pertamanya menjadi kakak TK, si mas bercerita dengan riang bahwa makannya selalu habis.

Alasan ketiga, ternyata ada kalori terukur dari setiap menu yang disajikan. Sesuai kebutuhan anak-anak seusia si mas. Begitu informasi yang kami terima dari pihak sekolah. Alhamdulillah bertemu sekolah yang sangat peduli setiap kebutuhan anak.

Alasan keempat dan yang terakhir, supaya si mas belajar mengenal jenis makanan yang lebih beragam. Bagaimanapun dengan mengikuti katering di sekolah, anak-anak jadi belajar. Si mas, khususnya, dihadapkan pada kenyataan bahwa ia harus mencicip menu dan rasa baru, yang sangat mungkin ditolaknya bila dirumah. Ehehe…

Begitulah cerita saya hari ini. Jadi bukan saya tidak mau membawakan bekal untuk si mas. Jika harus membawakan pun, insyaallah siap. Tapi hasil family forum ala keluarga kami, memutuskan si mas mengikuti katering. Keputusan telah diambil, kamipun berusaha untuk menjalankan sebaik mungkin.

Bilapun ditengah perjalanan kelak si mas menyatakan tidak ingin melanjutkan katering, yaa sudah. Tinggal diobrolkan lagi, dan diambil keputusan baru bila diperlukan. 😊

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.