Uncategorized

Dari Maya, Jadi Nyata, Saudara Selamanya

Sejak kemarin sudah disepakati, bahwa hari ini insyaallah akan kopdar kecil-kecilan. Kopdar kali ini hanya wasilah untuk bisa menyambung tali silaturahim.

Jadi begini ceritanya. Saya kebetulan tergabung dalam sebuah grup whatsapp. Membernya berisikan para istri yang suaminya bekerja di sebuah direktorat milik negara ini. Isinya dari ujung ke ujung Indonesia, ada.

Awal mula grup ini dibentuk sekitar April 2014. Niat awal membentuknya adalah untuk memudahkan silaturahim para istri di rantau. Selain itu juga untuk mengakomodir perasaan kesepian.

Yang awalnya tidak saling mengenal, di grup ini akhirnya kami berkenalan. Dari sekadar kenal, akhirnya kami bertemu. Setelah bertemu, hati kami saling terikat. Bahkan lebih lanjut, saling menanggung beban.

Nah, hari ini tadi. Salah seorang member, yang suaminya berkantor di Jember, kebetulan sedang berada di Jakarta. Beliau mengajak teman-teman di Pondok Aren untuk bersua. Kamipun menyanggupi.

Selama ini hanya bertukar kabar dan berjumpa via maya, melalui chat di grup atau media sosial. Akhirnya hari ini Allah memperkenankan kami berjumpa.

Sejujurnya dari grup ini, saya belajar banyak untuk menerapkan tahapan ukhuwah.

  • Taaruf (mengenal)

Tahap ini adalah tahap paling pertama dari tingkatan ukhuwah, yaitu mengenal. Disini saya berusaha mengenal saudara-saudara baru. Mengenal tidak saja hanya dari nama, tapi juga penampilan, sifat, keluarganya, latar belakangnya, dan sebagainya. Karena dengan saling mengenal, saya lebih tahu luar dalam kondisi orang lain.

  • Tafahum (memahami)

Setelah berkenalan, saya akan berusaha memahami orang yang baru saja dikenal. Proses memahami ini berjalan secara alami. Biasanya selama proses ini kita memahami apa yang teman kita sukai atau tidak. Termasuk juga memahami kekurangan maupun kelebihannya. Jika sudah memahami, maka saya bisa lebih memosisikan diri harus seperti apa bersikap.

  • Ta’awun (tolong menolong)

Tingkat selanjutnya adalah saling tolong menolong. Saat teman berada pada posisi sulit, maka yang lain berusaha saling menolong dan membantu. Ta’awun dapat dilakukan dengan hati yaitu dengan saling mendo’akan atau pemikiran yaitu dengan saling menasihati. Bisa saling membantu dalam kebaikan itu kebahagiaan tersendiri lho.

  • Takaful (menanggung)

Rasa sedih dan senang akan ditanggung bersama. Teman kita sedang kesusahan, maka dengan senang hati kita menanggung untuk membantu menyelesaikan masalahnya.

  • Itsar (mendahulukan)

Dan ini adalah tingkatan berukhuwah yang paling tinggi. Jadi ingat sebuah hadits “Tidak beriman seseorang diantaramu hingga kamu mencintai saudaramu seperti kamu mencintai dirimu sendiri” (HR. Bukhari-Muslim).

Rame dan Seru

Allah memberi saya kesempatan untuk banyak belajar selama bergabung di grup whatsapp tersebut. Insyaallah dari maya, jadi nyata, saudara selamanya. Sungguh tingkat keimanan seseorang secara tidak langsung akan tercermin dari ukhuwah yang ia pelihara.

#30harimenulis

#hari23

Facebook Comments

2 thoughts on “Dari Maya, Jadi Nyata, Saudara Selamanya”

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.