Uncategorized

Day 11: Mengenali Emosi

Hari Sabtu, 20 Januari 2018, saya dan kakanda mengikuti kelas parenting yang sudah sejak lama kami ikuti. Kemarin, menjadi pertemuan keempat. Kelas ini dipandu oleh psikolog Ibu Safithrie Soetrisno.

Selama pelatihan sejak pukul 9-15, si mas full bermain di kids corner.Di sana si mas belajar bermain bergantian dan berbagi bersama teman-temannya. Malam hari menjelang tidur saya merelease apa saja yang dilakukannya selama berada di kids corner.

“Jadi, tadi main apa aja sama mas Afa dan mas Yuan?” saya mencoba membuka obrolan.

“Mmm,,, aku main mobil-mobilan. Mas Yuan kan punya karpet yang ada gambar-gambar rumah sakit, kantor polisi, bagus banget Mi.”

“Oh Bagus ya, Mas?”

“Iya bagus. Kaya punyaku yang dulu itu lho, Mi, tapi lebih besar.”

“Oiya Mas dulu punya juga ya. Jadi apa yang Mas rasa selama bermain? Seneng atau sedih?”

“Yaa senenglah, Mi. Mainan mas Yuan buanyak buanget.” jawab si mas sumringah.

“Alhamdulillah yaa Mas. Hari ini sudah bermain dan Mas merasa seneng. Kalo seneng harus ucapkan apa, Mas?” saya memancing.

“Mmm… Alhamdulillah.” jawabnya malu-malu.

Jadi, menurut ibu Safithrie, anak usia empat tahun sudah mampu membedakan emosi senang, sedih, dan marah, sementara sudah cukup. Biarkan anak tumbuh bahagia tanpa ekspektasi dari orang tua. Ahh,,, lagi dan lagi menjadi pengingat diri ini. Menjadi ibu sering kali kurang sabar, kurang bisa mengatur perasaan.

Anak-anak tidak pernah salah, yang salah adalah ekspektasi orang tua terhadap anaknya itu tadi. Maafin Ummi yaa, Mas kalau masih terlalu sering menyakitimu dan membuatmu terluka. Kita perbaiki lagi ya.

#tantangan_hari_kesebelas #kelasbunsayiip3
#game_level_3
#kami_bisa

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.