Kemandirian Anak

Day 2 – NHW FBE

Alhamdulillah sudah masuk hari kedua. Betul kata pepatah, dalam melakukan sesuatu, memulainya menjadi hal tersulit. Intinya sesuatu itu kalau belum dilaksanakan ya akan sulit saja terus karena kita hanya bisa membayangkannya. Ketika sudah benar-benar dimulai, maka ada dua kemungkinan. Pertama akan lebih sulit atau yang kedua lebih mudah dari apa yang dibayangkan sebelumnya.

Begitu pula dengan saya, ketika mendapat NHW tentang fitrah based education, ngawang-awang saja kerjaannya. Itu nanti mau bagaimana, belum ada bayangan. Tapi ternyata setelah dijalani, oh mungkin begini atau begitu maksudnya. terlepas benar atau salah, yang penting jalani saja.

Lanjut. Saya akan bercerita tentang kejadian kedua hari kemarin. Jadi ceritanya kedua anak ini susah sekali diajak mandi sore. Lalu saya mencoba berkompromi dengan meminta mereka main air di kamar mandi lima menit sebelum waktunya mandi. Merekapun menyetujui.

Setelah melepas pakaian, seperti biasa mereka akan membaca doa dan masuk kamar mandi. Saya jalan ke dapur dan menyelesaikan cucian piring. Selesai cuci piring, lanjut membereskan area kompor dari cipratan minyak. Sungguh diri ini terlalu asyik, karena memang anak-anak seru di kamar mandi. Saya merasa tidak ada gangguan dong. Aman damai sentausa. Khilaf hampir 10 menit. Ihihi…

Si mas tiba-tiba keluar dari kamar mandi dan berkata, “Ummi, di kamar mandi terjadi kekacauan. Semua akibat adik.”

Saya setengah ngikik sih. Si mas dapat istilah ‘kekacauan’ dan ‘akibat’ mungkin dari sekolah. Sementara adik tidak terima dengan kalimat si mas. Oke. Saya tinggalkan area dapur dan tarik nafas. Bersiap menghadapi kekacauan yang dimaksud si mas.

Uhlala… Kamar mandi penuh dengan busa dengan lantai sangat licin. Semua alat mandi termasuk botol sampo, sikat gigi, odol, dan lego-legoan berserakan memenuhi area kamar mandi. Tanggapan saya kemarin, “Wah ini benar-benar terjadi kekacauan. Ayo sama-sama segera kita bereskan kekacauan ini.”

Alih-alih saya yang membereskan, saya memberi instruksi pada si mas dan adik untuk memilah barang-barang tersebut. “Mas coba dipilih mainannya. Ditaruh di pinggir dulu,” jeda bebera saat, “Adik tolong kumpulkan botol sampo, sikat gigi sama odolnya. Nanti ummi bantu taruh di tempatnya.”

Kedua anak menuruti instruksi dengan riang gembira. Saya juga tanpa urat emosi menyampaikannya. Justru ikut bersenang-senang dan berbahagia. Mungkin kalau dulu-dulu saya akan masuk kamar mandi, ngedumel, dan bersungut-sungut memasang wajah masam. Tapi kembali ingat lagi fitrahnya anak-anak ya memang suka bermain, apalagi air. Jadi saya ingin mengajarkan sedikit bentuk tanggung jawab. Mereka yang membuat kekacaun, mereka pula yang harus menyelesaikannya.

Setelah selesai mandi, saya ajak keduanya duduk lalu membahas soal kamar mandi. Tentang boros sabun, boros air, bahwa boros itu saudaranya syetan. Juga tentang akibat jika terpeleset karena sabun yang berceceran di lantai itu licin. Keduanya sih iya-iya saja. Semoga terus bisa membersamai keduanya dengan kesabaran.

Kala mereka bertemu air

#FitrahHomeBasedEducation
#TrainingCalonFasilMIIPB7
#IbuMendidikdenganNurani

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.