Menulis Review

Gandrung Wattpad

Teman, saya mau mendeklarasikan diri, kalau diri ini termasuk yang terlambat mengenal wattpad. Aplikasi ini sudah sering terdengar sejak dua tahun lalu. Sudah banyak yang menyebut kata wattpad lah pokoknya. Tapi sejujurnya saya baru mulai mengunduh wattpad sekitar bulan April dan mulai aktif membaca baru akhir Mei tahun ini. Telat kan? Hahaha…

Sebelumnya lebih suka membaca buku fisik.  Dulu, sebelum kenal wattpad, kakanda megenalkan saya pada ePerpus Kemenkeu. Aplikasi ini sebenarnya fasilitas yang diberikan kepada setiap pegawai Kemenkeu terdaftar. Syaratnya mudah, ya hanya pegawai Kemenkeu dan mendaftar. Begitu saja. Setelah itu, member terdaftar bebas mengakses buku elektronik yang tersedia di katalog.

Nah, kakanda membuat satu akun dan dipakai di dua telepon pintar. Jadi, keanggotaan ePerpus di telepon pintar saya itu akunnya kakanda. Saya dan kakanda ini banyak pakai satu akun. Selain ePerpus, ada play books, spotify premium, tokopedia, dan ada lagi yang lainnya. Kakanda yang lebih tahu lah. Beliau yang atur, kalau saya tinggal pakai saja. Hehe.. iya begitu.

Kembali ke wattpad. Jadi setelah menemukan aplikasi membaca ini, semakin menjadi-jadilah diri ini. Bisa memilih bacaan yang jenis bagaimana juga ada. Padahal di ePerpus juga begitu sih. Tapi karena bacaan bagus di ePerpus udah habis dilahap, jadilah beralih ke wattpad.

Jeleknya saya dulu, tak akan bisa menutup buku kalau belum tamat. Bisa lho sambil tidur sambil menebak cerita kelanjutannya. Tadinya saya pikir tidak akan se-freak itu. O-ow, rupanya salah menebak diri sendiri.

Nah sekarang, kalau sudah ketemu bacaan yang bagus di wattpad, bisa begitu juga. Sebelum tamat itu cerita, bisa terbayang-bayang sambil menebak-nebak kelanjutannya. Ada yang separah saya?

Beberapa pekan lalu saya sempat membaca kekhawatiran seorang teman kepada keponakannya yang beranjak remaja. Sebutlah namanya Mawar (bukan nama sebenarnya-hahaha). Si mawar saat ini berusia 13 tahun. Kedua orang tuanya bekerja dari pagi hingga malam, anaknya diberi kelonggaran smartphone dengan akses internet di rumah sebebas-bebasnya.

Nah si Mawar ini sedang gandrung sekali dengan wattpad. Padahal saya tahu persis sangat banyak cerita super aneh di sana. Bahkan banyak tulisan yang menggambarkan dengan gamblang adegan berhubungan badan antara sepasang kekasih tanpa ikatan pernikahan sekalipun. Hufh… saya menghela nafas panjang. Bagaimana bila tulisan-tulisan itu terbaca oleh mawar?

Teman saya, yang notabene tantenya Mawar, bahkan tak mampu mencegah Mawar untuk tak membaca tulisan-tulisan yang tidak sesuai genre usianya. Ditambah cerita teman saya tadi tentang pengakuan ibunya Mawar, yang nyata sekali membanggakan anaknya suka membaca buku elektronik. Huhuhu…

Betul, ibunya tahunya si Mawar suka membaca. Tapi ibunya tak mungkin bisa tahu setiap apa yang dibaca oleh Mawar bukan? Saya sedih lho teman-teman. Asli sedih. Bagus bila pembaca wattpad mampu memilah mana yang patut dibaca mana yang tidak. Tapi bila belum punya kemampuan untuk memilah bacaan seperti kasus mawar tadi, bagaimana?

Generasi muda kita telah rusak pelan-pelan. Halus sekali caranya. Mulai dari membaca merebaknya cerita cinta yang diumbar, lalu sisi lain otak mereka akan mengatakan bahwa hal seperti itu sah. Perlahan tapi pasti bukan tidak mungkin mereka akan melakukan hal yang sama, bukan?

Menurut teman-teman, bagaimana solusinya?

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.