Uncategorized

Hadiah Ulang Tahun – 4

Kemarin kemarin kemarin widhya sudah cerita soal hadiah ulang tahun. Semoga belum bosan kalau hari ini cerita hadiah ulang tahun lagi. Kali ini bagian keempat.

Hadiah yang datang adalah dari seorang teman lama. Dulu 2011-2013 saya pernah tinggal di Kota Satria, Purwokerto. Ketika itu, masa saya benar-benar berjuang untuk menyelesaikan kuliah dengan kondisi Long Distance Married (LDM). Belum lagi soal beasiswa yang berbatas waktu.

Dua alasan di atas menjadi dasar kenapa masa itu saya menyebutnya masa perjuangan. Masa berat, bagi saya. Segala syukur terpanjat kehadiran Allah selama menjalani masa berat tersebut, saya dipertemukan dengan lingkaran yang sangat mendukung.

Lingkaran yang terus mengajak saya berbuat baik, mengenal diri sendiri, dan berjuang menjemput impian di rantau. Sejak itu saya bertemu dengan Bu Key -saya menyebutnya- dan Dek Isti.

Jikalau kotak memori lama widhya dipecah dan diurai, pasti akan menemukan dua nama tersebut di dalamnya. Bu Key ini teman menggalau, teman ngaji yang luar biasa modis.

Widhya? Jauh banget dari kata modis, artian sesungguhnya. Saya dekat dengan Bu Key sebatas teman ngaji, teman makan, dan teman berkeluh kesah. Makan sih yang sebenarnya.

Saya punya kebiasaan yang boleh dibilang agak aneh. Tidak bisa makan sendiri. Rasanya selalu ingin ada orang yang tampak mata untuk menemani saya makan. Nggak seru kan makan sendirian itu.

Nah, Bu Key ini yang paling sering menghabiskan waktu malam sambil mencoba jajanan baru di seputaran Kota Purwokerto. Kesamaan pemikiran membuat kami dekat, kala itu. Banyak teman ngaji, tapi kok ya paling klik sama Bu key ini.

Sekarang, saat ini, Bu key tinggal di kota Samarinda. Merajut mimpi bersama keluarga kecilnya di Pulau Kalimantan. Meski demikian, akses internet memudahkan kami selalu bertukar kabar. Hampir setiap hari saya bisa melihat atau sekadar menyimak aktivitasnya di media sosial.

Satu lagi adalah Dek Isti. Kala itu, kenal Dek Isti karena setelah menghadiri acara yang diadakan para kakak letting, saya dan Dek Isti ini mampir makan ke suatu tempat. Kebetukan ketika makan itu, menjelang maghrib, dan sedang ada pemadaman listrik.

Oiya, cerita sedikit tentang pemadaman listrik ya, Purwokerto itu salah satu kota yang pernah saya tinggali dan paling sering mengadakan pemadaman bergilir. Entah karena alasan apa. Pokoknya sering sekali ketika kuliah, tiba-tiba listrik padam. Sering ketika sudah di kost dan terjadi pemadaman dalam waktu lama. Bahkan ketika saya ujian tesis saja sedang pemadaman, Guys! Padahal saat itu saya sedang hamil besar. Bisa dibayangkan saya berimprovisasi macam apa saat itu. Alhamdulillah selesai juga.

Nanti yah. Suatu hari nanti saya ingin menceritakan proses per-tesis-an saya yang tak mudah dalam sebuah tulisan tersendiri. Seru juga ditulis untuk dijadikan kenangan.

Balik lagi, soal Dek Isti. Maafkan. Kalau menulis ide suka berkeliaran sampai mana-mana. Ujungnya kurang fokus. Hiks.

Ketika makan bersama Dek Isti, pemadaman listrik dong. Gerimis pula. Paket komplit kondisi romantis deh. Sejak itu, saya dan Dek Isti ini bertukar cerita, bertukar kabar, dan akhirnya jadi saling menguatkan.

Sedikit buka cerita, kalau saya tidak salah ingat, Dek Isti ini pernah hampir saya tawarkan untuk ta’aruf dengan seorang kawan. Jadi enggak yah dulu itu, lupa. Hihi. Yang pasti sekarang sudah jadi ibu beranak dua, sekaligus pengusaha sukses.

ini kenampakan sajadahnya

Hadiah ulang tahun yang saya terima dari Bu Key dan Dek Isti adalah sajadah custom bertuliskan nama widya. Sesuatu yang sangat bermanfaat sekali di masa pandemi begini. Kalau terpaksa bepergian dan sekiranya melewati waktu salat, bawa perangkat salat sendiri. Termasuk membawa sajadah sendiri. Jadi sajadah ini akan sangat bermanfaat bagi widhya.

ada pouschnya

Bahannya lembut, empuk, dan sengaja didesain dengan simpel sehingga bisa dibawa bepergian. Ketika paket datang, saya sama sekali tidak merasa memesan apapun. Lagi, Allah kalau mau kasih rejeki itu bisa kapan aja dengan bagaimanapun cara-Nya.

Beberapa hari sebelum ketika paket itu tiba, saya sempat membatin perlu beli sajadah. Bukan apa, sajadah portable yang biasa saya pakai, saat ini menjadi prioritas untuk dipakai kakanda ke kantor. Setiap hari ke kantor, beliau bawa, sampai di rumah langsung cuci. Musim begini, musti ekstra hati-hati.

Terharu sama hadiahnya lho saya Bu Key, Dek Isti. Insyaallah Allah ridho. Matur nuwun sanget. Doa terbaik untuk Kesehatan, kelancaran semua urusan, dan keberkahan menyelimuti Bu Key dan Dek Isti sekeluarga. Gusti Allah yang membalas kebaikan Bu Key dan Dek Isti ya insyaallah.

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.