Parenting

Ingatkan Diri, Be a Gardener Not a Carpenter

Hari ini mencoba mengingatkan diri. Setelah kemarin ada seorang teman yang datang ke sini. Sejak pukul empat sore hingga menjelang waktu isya.

Banyak hal diceritakannya. Dua hari sebelum kemarin, teman saya sudah menghubungi saya. Menanyakan apakah widhya menerima tamu datang ke rumah. Maka saya jawab, iya jika hanya seorang diri. Kebetulan saya juga kenal baik beliaunya. Bismillah, dengan izin Allah semoga tidak apa-apa.

Menerima tamu pada masa pandemi begini adabnya menjadi bertambah dengan meminta izin sebelum datang. Apakah tuan rumah berkenan atau tidak.

Teman saya menceritakan ketika dua hari sebelumnya waktu menghubungi itu, dia sedang berkonflik dengan suaminya. Kabarnya sampai menangis lama dan sempat bersitegang dengan suaminya.

Latar belakang, teman saya sang perempuan ini, terbiasa hidup dengan pola asuh yang keras. Mulai mengalami perbedaan agama kedua orang tua, mengalami masuk dua rumah ibadah, mengalami perpisahan orang tuanya, hingga hidup tak diakui oleh ibu tirinya. Pelik dan kusut. Sementara sang suami, anak keempat dari empat bersaudara, dan laki-laki sendiri.

Dalam enam menjelang tujuh tahun pernikahannya, sang istri merasa bahwa suaminya semakin sulit diajak berkomunikasi. Sulit diajak berdiskusi dan menyampaikan pendapat. Komunikasi berhenti begitu saja.

Kemarin teman saya, sang istri, menceritakan banyak keluhannya. Hingga tak terasa air mata tak kuasa dibendung lagi. Dia menginginkan perubahan. Tentu perubahan ke arah yang lebih baik.

Semakin sang istri bercerita, saya mengambil beberapa kesimpulan. Salah satunya, ada fitrah-fitrah suami yang tercederai, begitupun fitrah-fitrah istri. Bukan, bukan widhya yang paling tahu. Atau bahkan belum tentu widhya sudah tumbuh paripurna fitrah diri ini. Saya juga masih belajar dan menumbuhkembangkannya.

Hanya kebetulan widhya sudah belajar duluan tentang Fitrah based Education, makanya bisa mengambil kesimpulan singkat ala-ala widhya. Nggak tahu kenapa, ketika beliau bercerita, saya langsung membayangkan began delapan aspek fitrahnya Ustaz Harry Santosa yang seharusnya tumbuh paripurna dalam setiap insan dan bagaimana jika fitrah tercederai.

Salah satunya fitrah keimanan, salah duanya fitrah individual dan sosial, serta salah tiganya fitrah seksualitas dan cinta pada diri sang suami tercederai. Ustaz Harry selalu berpesan, sebelum memperbaiki anak-anak, perbaiki dulu diri sendiri. Jika fitrah diri sudah tumbuh paripurna, maka bisa menumbuhkan fitrah anak.

Kenapa widhya bisa menyimpulkan fitrah keimanannya tercederai? Karena sang istri bercerita bahwa salat lima waktu sang suami masih harus diingatkan, masih harus dikejar-kejar dulu, dan waktunya selalu tertinggal. Kondisi work from home jadi kambing hitamnya.

Kalau fitrah individu dan sosialnya tidak tumbuh ini terlihat dengan saat sang istri menyampaikan komunikasi, meski dengan cara yang kurang pas, sang suami hanya diam saja. Tiada tanggapan. Cenderung cuek bukan hanya pada komunikasi istri, tapi juga pada kondisi rumah dan anak-anaknya.

Fitrah seksualitas dan cintanya tidak tumbuh terlihat dengan peran seksualitas, peran keayahannya tidak berjalan baik. Banyak tanggung jawab ayah sebagai raja tega tidak diterapkan. Apakah latar belakangnya dengan tiga kakak perempuan memengaruhi? saya pun tidak tahu.

Sepanjang tulisan ini, saya menulis sambal merefleksikan diri. Apalagi yang harus saya perbaiki ya? Apa fitrah diri yang masih belum berkembang sempurna? Apa yang menjadi ganjalan diri apakah juga dirasakan oleh orang-orang di sekitar widhya?

Malam hari saya membahasnya secara singkat dengan kakanda. Banyak insight yang saya dapatkan dari curahan hati sang istri yang juga teman widhya. Saya harus banyak-banyak bersyukur serta sering-sering refleksi diri apa saja fitrah yang tercederai dan harus dikembangkan segera.

Ada kaidah yang berlaku menurut pesan Ustaz Harry yaitu raise your child, raise yourself. Kaidah berikutnya yaitu be a gardener, not a carpenter.

Bismillah. Semoga tulisan ini mengingatkan saya sebagai insan sekaligus sebagai orang tua yang mengemban misi peradaban spesifik nan unik.

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.