One day One Post

Inilah Kisah Kami – 6

Ajakan Aruna kali ini sulit kuhindari. Bisa lho dengan mudahnya dia mengajakku untuk ikut mabit. Herannya, aku bisa juga dengan mudahnya meng-iya-kan ajakannya. Padahal aku sudah berencana untuk merapikan kamarku setelah sepekan lalu kupakai berkejaran menyelesaikan revisi. Tak apa. Toh mabit bukan hal sia-sia kan? Hal bermanfaat kan?

Kalau boleh jujur, aku menyesal setelah mengikuti mabit yang diadakan keputrian ini. Iya mohon dicatat aku menyesal. Menyesal karena ada sesi muhasabah yang terlewat, sebelumnya tak disebutkan oleh Aruna pada saat mengajakku.

Pada sesi muhasabah sepertinya akulah peserta yang paling keras menangis. Merasa diri ini paling berlumur dosa. Boleh dikatakan aku bukan hanya menangis, tapi meraung-raung.

Banyak hal diingatkan oleh suara lembut, yang aku yakin itu adalah suara salah seorang panitia. Pertama pasti karena diingatkan soal kedua orang tua. Tak jauh-jauh, soal ibu dan ayah. Berikutnya tentang tanggung jawab diri. Dan masih banyak lagi. Hatiku terasa sesak setelah sesi muhasabah itu dan tertinggal jejaknya hingga pagi hari.

“Udah ya, Nes. Jangan bersedih terus. Udah selesai ini sesi muhasabahnya. Sebentar lagi kita salat subuh. Habis itu baliklah kita ke kost. Bisa tidur sepuasnya kalau kamu mau.” Aruna mencoba membujukku.

“Siapa bilang aku menyesal. Aku nggak menyesal. Tapi aku menyesal banget. Merasa selama ini belum bisa jadi anak berguna. Merasa masih sering hura-hura. Merasa paling berlumur dosa.” Tegasku masih dengan mata sembab.

“Wajarlah itu. Itu kan memang perasaan orang pasca muhasabah ya begitu itu. Kamu pikir aku nggak merasa begitu? Sama aja, Nes.”

“Ya tapi seenggaknya, kamu udah jadi anak baik bagi kedua orang tuamu. Dosamu nggak sebanyak aku lah.”

“Kata siapa dosaku nggak banyak. Allah tutup aja aibku. Coba kalau aib itu berbau dan Allah nggak tutupin. Pasti kamu nggak mau dekat-dekat aku saking baunya.” Aruna membuatku terhenyak lagi. Aku tersenyum simpul tak menanggapi kalimatnya.

“Nanti akhir pekan ini kita bakalan mudik nih. Baik-baikin deh kamu di rumah. Terutama sama papa mama kamu. Minta maaf banyak-banyak ke mereka atas semua kelakuanmu dari dulu sampai sekarang.” aku membelalakkan mata mendengar kalimat terakhirnya.

“Wow. Banyak banget dong. Aku nggak ingat semua.” tandasku kesal.

“Ya intinya begitu. Mudik besok harus dijadikan ajang untuk berbakti pada orang tua kita. Anggap itu sebagai bentuk permohonan maaf karena semua kesalahan diri. Nggak apa-apa belum bisa kasih mantu. Kamu bisa kan kasih bantu-bantuan. Ya kamu sambil siap-siap aja ditanya calon, ditanya kapan nikah, dan seterusnya. Apalagi wisuda udah di depan mata.” Aruna kalau ngomong suka benar (baca: ngaco) ya. Aku melotot seketika. Terlalu terkejut mendengar ucapannya.

“Ada yang curhat nih. Itu mah kamu, Non. Abi sama ummimu pasti udah pengen banget lihat anak semata wayangnya dapat jodoh. Lah aku sih aman. Kakak sudah nikah. Sudah punya ponakan tiga biji juga.” Terus terang suasana hatiku semakin membaik. Aruna memang paling tahu bagaimana menjungkirbalikkan mood-ku. Kadang-kadang ya membaik begini, tapi lebih sering membuat moodku kacau dan memburuk seketika.

#day_22
#rwcodop2019
#onedayonepost

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.