Uncategorized

Jodohku, Maunya Ku Dirimu – 10

Pagi itu, Risa janji untuk menemui Nurul, untuk kemudian akan diajak ke tempat kerjanya. Risa hanya berniat, supaya Nurul bisa melihat sendiri kenampakan Hanan. Setelah itu, biar mereka sendiri yang menentukan.

Risa menjemput Nurul, ditemani Adit. Selama di perjalanan, mereka berdua lebih banyak diam. Sesekali keduanya melempar senyum. Risa menikmati sensasi hening itu.

Sesampai di hotel, Risa menghubungi Nurul untuk segera ke loby hotel dan melanjutkan rencana. Risa berhambur ke arah Nurul saat melihat kerudung sahabatnya. Di dalam mobil, Risa memilih duduk di belakang menemani Nurul.

“Eh lho, kok kamu di belakang, Ris? Nggak papa lho kamu di depan nemenin mas Adit.” kata Nurul

“Nggak lah. Gapapa kan Mas?” sambil memberi isyarat

“Its oke.” jawab Adit tersenyum

Perjalanan dilanjutkan ke tempat Risa bekerja. Risa langsung mengajak Nurul untuk singgah sejenak, sementara Adit menunggu di pelataran. Memasuki ruang dingin itu, tampak sosok Hanan.

“Lho? Kok sudah masuk kerja!? Katanya mau izin dulu sepekan?” tanya Hanan saat bertemu Risa

“Hehe,, iya. Saya cuma mau ajak temen. Biar liat tempat saya kerja.” kata Risa

“Ohiya, ini sahabat saya, Nurul. Nurul, ini mas Hanan. Penanggung jawab apotek ini.” kata Risa segera

Keduanya saling menganggukkan muka, pertanda salam kenal. Risa hanya sejenak mampir di apotek, untuk kemudian mengantar Nurul ke bandara.

“Yah, Rul. Kamu ngapain ke sini bentaran doang. Tambahin dua hari kek!” pinta Risa

“Males amat aku harus liat penganten baru. Ntar aku iri. Berabe.” kata Nurul sengit

“Nanti aku kasih nomer hp Mas Hanan, kamu hubungi sendiri ya.” kata Risa buru-buru

“Kan kamu yang mau jodohin aku, masa aku yang hubungi…” Nurul bersunut-sunut

“Maksudnya nanti aku kasih prolog ke mas Hanan. Setelah itu, lanjutin sendiri”, Risa mencoba menjelaskan

Risa dan Nurul akhirnya berpelukan tanda perpisahan. Adit mengamati kelakuan istrinya itu dengan sesekali memotret dengan telepon pintar dari kejauhan.

Dua pekan setelah hari pernikahan, Adit harus kembali ke Sulawesi. Sementara ini, Adit dan Risa menjalani Long Distance Married. Risa berniat menyusul Adit setelah kontrak kerja pertamanya selesai.

Perpisahan kali itu terasa begitu menyesakkan. Belum genap sebulan mereka berkenalan, namun sudah harus terpisah jarak Solo Sulawesi.

Risa dan Adit selalu saling bertukar kabar melalui telepon maupun pesan langsung. Sepekan pertama menjadi hari-hari yang memberatkan bagi Risa. Ia lebih sering terlihat murung. Apalagi jika bayangan sosok Ardi Tian tiba-tiba berkelebatan. Rindunya,  ingin segera berada di sisi suaminya, menghabiskan waktu bersama.

Dua bulan kemudian Risa memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak kerja. Ia harus menyusul Adit. Tiket perjalanan sudah disiapkan, tempat berteduh juga sudah.

“Selamat datang di Bulukumba, Dek Ris.” kata Adit saat menjemput Risa di Bandara

Hari-hari berikutnya yang terjadi dikehidupan Risa dan Adit masih penuh kebahagiaan. Komunikasi dengan Nurul pun berjalan baik. Dari Nurul ia tahu bahwa sahabatnya itu akan melangsungkan pernikahan dengan Hanan diakhir tahun. Risa berjanji untuk datang ke Lampung, kampung halaman Nurul.

“Mas, Nurul akhirnya jadi nikah sama Mas Hanan akhir tahun ini.” kata Risa

“Ohya? Alhamdulillah. Memang sebaiknya begitu. Lebih cepat lebih baik.” jawab Adit

“Akhir tahun mungkin kita bisa sisihkan anggaran untuk datang ke pernikahan Nurul. Sekalian jalan-jalan mau?” tanya Adit

“Mau lah.” kata Risa berbinar

Hari pernikahan Nurul sudah semakin dekat. Tepat satu bulan sebelumnya, Risa mengantar kepergian Adit untuk pergi kerja dari rumah kontrakan seperti biasa. Tiada firasat apapun. Siang menjelang sore hari, telepon pintar Risa berdering.

“Dengan Ibu Risa, Istri Mas Aditya Wiratama?” tanya laki-laki di seberang

“Iya saya. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Risa

“Saya Sukoco, Bu. Rekan kantor Mas Adit. Mohon maaf sebelumnya. Ini saya dapat tugas memberi kabar. Mas Adit mengalami kecelakaan kerja. Ada alat berat di tempat proyek yang belum terpasang sempurna, jadi ambruk. Mas Adit salah satu yang terluka serius, Bu.” kata laki-laki bernama Koco itu

Dunia Risa seolah runtuh saat itu. Ia bergegas ke rumah sakit yang telah diinformasikan sebelumnya. Ia belum bisa menemui suaminya setelah sampai di tempat tujuan. Menurut informasi yang diterimanya, Adit hilang kesadaran, sehingga masih ditangani oleh para dokter.

Risa tidak bisa berbuat apa-apa. Ia terpukul, tapi masih punya cukup kesadaran untuk menghubungi sanak saudara di Solo. Risa sesenggukan menelepon kedua orang tua serta mertuanya. Kontan, keempat orang tuanya setuju menyusul Risa ke Bulukumba.

Tiga jam berlalu, Risa diizinkan menemui suaminya di ruang ICU. Risa berhambur memeluk tangan Adit setelah berganti pakaian khusus berwarna hijau yang telah disediakan. Ia hanya bisa mengecup tangan yang terpasang infus itu.

“Mas, kan mau ajak Risa jalan-jalan. Ayo bangun, Mas.” Risa menitikkan air mata

“Risa sayang Mas Adit. Sayang banget.” Risa mengelus tangan suaminya sangat pelan

Risa tidak bisa berpikir jernih. Pikirannya melayang kemana-mana. Tak sanggup memikirkan kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya.

_bersambung_

Facebook Comments

2 thoughts on “Jodohku, Maunya Ku Dirimu – 10”

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.