Uncategorized

Jodohku, Maunya Ku Dirimu – 6

Soto Trisakti menjadi favorit keluarga pak Rido. Soto Solo seolah tiada tandingannya. Setiap berkunjung ke suatu kota, mereka mencicip kuliner soto. Ada soto Sokaraja, Lamongan, Banjar, dan lainnya. Namun belum ada yang bisa mengalahkan kelezatan rasa soto Trisakti bagi keluarga pak Rido.

“Risa kamu yakin mau dikenalin sama anaknya temen Papa?“ tanya pak Rido selesai makan

“Iya, Pa.” jawab Risa sekenanya

“Beneran ini. Barusan pak Handoyo telpon Papa. Katanya kalau kamu serius, yaa udah ketemu aja langsung.”

“Hah? Sekarang banget, Pa?!” Risa ngeri mendengar kata serius

“Terserah Risa sih. Kapan siapnya.” pak Rido menenangkan

“Ini cuman mau ketemu aja kan ya? Bukan nikah langsung gitu? Risa ngeri ah. Belum juga kenal. Udah serius-serius aja Papa ini”, jawab Risa sambil bergidik

Di benak Risa mulai berkelebatan bayang-bayang Ardi Tian tanpa bisa ia tolak. Ia sendiri tak tau harus berbuat apa. Seketika itu, ia hanya butuh didengar oleh Nurul. Risa rindu mencurahkan isi hatinya pada Nurul.

“Besok mereka silaturahim ke rumah kita.” kata pak Rido kemudian.

Pak Handoyo adalah sahabat baik pak Rido di kantor. Keduanya saling melengkapi dalam banyak hal. Wajar adanya jika pak Handoyo menginginkan bwsanan dengan pak Rido.

Hari Ahad, jarum jam di ruang tengah menunjukkan pukul 10 lebih 12 menit. Bu Riani menyiapkan makanan di dapur sementara pak Rido membereskan ruang tamu dan Ringga asik memainkan smartphone. Semua sibuk dengan aktivitas masing-masing. Hanya Risa yang merasa cemas.

Risa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya jika semua pihak menyetujui perkenalan hari itu. Risa membatin, “Hanya perkenalan kenapa semua keluarga ikut?”

Risa pun menyempatkan diri menghubungi Nurul.

NURUL IZZATI DAKU KANGEN DIRIMU. NANTI MALEM AKU TELPON YA

Itu bunyi pesan singkat dari Risa dengan semua hurufnya menggunakan huruf besar. Tidak lama smartphone Risa berdenting.

Oii Risa Swastika. Kibor hapemu rusak? Kenapa itu kepslok semua!? Aku tunggu penjelasan darimu nanti malem.

Risa membaca balasan dari Nurul sambil tersenyum. Sedetik kemudian terdengar suara orang mengucap salam. Perasaan was-was, cemas, kembali menghantui Risa, “Ini semacam mau acara lamaran dan ketemu dua keluarga.”

Pertemuan itu menghasilkan satu hal. Keluarga sahabat pak Rido ingin Risa berkenalan serius dengan Adit, si anak lelaki satu-satunya.

Adit adalah anak terakhir dari empat bersaudara. Ketiga kakak perempuannya telah berkeluarga, sehingga wajar adanya jika ia diharapkan segera menyusul kakak-kakaknya.

Saat ini Adit bekerja di perusahaan swasta di Sulawesi. Itulah sebabnya pertemuan perkenalan Risa dan Adit dibuat sangat kilat, mengingat kesibukan Adit yang hanya bisa pulang dalam dua bulan sekali.

Risa merasa aman, setidaknya untuk dua bulan kedepan. Ia tidak akan bertemu dengan anak pak Handoyo itu. Adit bukan tak tampan. Hanya bayangan Ardi Tian seolah masih sangat lekat pada kesehariannya.

“Gimana, Risa? Kamu suka sama Adit, Kan?” tanya pak Rido memastikan

“Suka..” jawab Risa sambil mengunyah sisa sajian para tamu

Pekan depannya Risa berjanji sekuat tenaga untuk menyebar lamaran pekerjaan. Ia sudah menyiapkan portofolio terbaiknya untuk disebar ke beberapa tempat tujuannya. Risa tidak ingin membebani pikiran soal perkenalan aneh itu.

Malam hari, Risa menghubungi Nurul. Mereka bertukar kabar. Lalu Risa menceritakan semua apa yang dialaminya dari A sampai Z. Tak ada yang tercecer. Nurul tidak banyak memberi masukan. Hanya bisa memberi wejangan, “Selagi kamu bisa, turuti apa yang jadi keinginan orang tuamu, Ris.”

Risa tak mau ambil pusing. Ia bertekad ingin segera dapat kerja, mau menabung, baru kemudian memikirkan nikah.

Tak berselang lama dari penantiannya, sebuah rumah sakit baru di kotanya, memanggilnya sebagai staf di apotek. Risa bertugas melayani penebusan resep. Kesibukannya membuat ia bisa melupakan soal Adit maupun Ardi Tian.

Hingga pada suatu malam, Risa sedang menikmati makan malamnya ketika pak Rido mendesaknya segera menikah.

“Nduk, kamu kan sudah dapat kerja. Perempuan itu tempat terbaiknya tetap di rumah. Kamu gimana sama Adit?” tiba-tiba pak Rido mengangkat topik itu lagi

“Nggak gimana-gimana, Pa. Dia nggak pernah hubungi Risa kok.” sesaat Risa merasa tenang

“Masa sih? Tapi kata Pak Handoyo, Adit selalu membahas kamu. Dia merasa cocok sama kamu. Kalo kamu cocok, mereka siap akan segera melamar.” kata pak Rido

Risa tersedak sambil bergumam, “Risa nggak salah dengar, Pa? Adit nggak pernah hubungi Risa, masa cocok. Darimana judulnya.”

“Tapi kamu sendiri gimana, Nduk? Insyaallah anaknya baik, sholih. Mama pengen liat kamu didandani pake gaun nikah. ” kata bu Riani

Risa tampak diam sejenak. Ia kembali memikirkan kalimat sahabatnya, Nurul, untuk menuruti apa yang jadi mau kedua orang tuanya.

“Risa ngikut kata Mama Papa aja. Insyaallah Risa siap.” kata Risa menahan sesuatu. Risa mencoba tenang. Ia merasa belum bisa membuat kedua orang tuanya bahagia, sehingga ia bertekad tidak ingin membuat kecewa. 

Suara hati Risa berkata, “Nggak dapet Ardi Tian dapetnya Aditya. Nama yang mirip. Sungguh kebetulan yang mencengangkan”.

_bersambung_

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.