Uncategorized

Jodohku, Maunya Ku Dirimu – 1

Risa sedang dalam perjalanannya menuju laboratorium saat tiba-tiba astrea primanya berhenti. Motor pemberian ayahnya itu seusia dengan pengendaranya. Wajar adanya jika butuh perawatan lebih ekstra.


“Uuhh,, kamu kenapa sih, Bobi. Kan barusan udah aku beliin bensin. Kamu manja deh.”, Risa berbicara sendiri.


Mau tak mau, ia mendorong motornya memutar balik arah. Dalam perjalanan tadi, ia sempat melihat ada tukang tambal ban di ujung jalan. Risa hanya berpikir, mungkin kang tambal bisa membantunya. Tak jauh, hanya sekitar 500 meter. Baru separuh jalan ada seorang menyapanya dari belakang, “Hai, Ris. Kenapa motornya?”


“Ah, hai Kang Ardi. Iya ni, nggak tau kenapa si Bobi. Tiba-tiba mati, nggak mau distater. Mungkin dia lelah, Kang. Hehe…” jawab Risa cengengesan menutupi rasa gagap


“Trus ini mau dibawa kemana?” tanya Ardi sambil nunjuk motor Risa.


“Ke tukang tambal ban ujung jalan sana, Kang.”


“Lah kok tukang tambal ban? Mau Akang bantu? Risa bisa naiki sepeda ini”


“Mmm,, nggak usah, Kang. Makasih. Risa dorong sendiri aja. Udah deket kok.” jawab Risa setengah kikuk


“Yakin nih?” selidik Ardi 


“Bismillah…” Risa menjawab dengan mantab

Pembicaraan pertama mereka berakhir di situ. Kang Ardi adalah kakak angkatan Risa. Seluruh penghuni universitas ini kenal Ardi Tian. Kecerdasannya, ketampanannya, ketegasannya, serta kesopansantunannya sudah terkenal di kalangan mahasiswa, dosen, juga para penjaga kantin.


Selama mendorong motor,  Risa masih membatin. Pikirannya masih melayang-layang dipenuhi sejumlah pertanyaan. Pertanyaan ‘kok bisa kang Ardi mengenalnya’ itu yang paling menyedot fokusnya.


Risa mahasiswi biasa saja. Tanpa prestasi yang mencengangkan, tanpa punya kelebihan, tidak pula punya banyak teman. Ia hanya punya satu teman dekat bernama Nurul, yang secara kebetulan menjadi teman di sebelah kamar kosnya. Mereka hanya berbeda jurusan. Risa mengambil farmasi, sementara Nurul ilmu akuntansi.


Setelah sampai di tukang tambal ban, Risa minta tolong kang tambak untuk mengecek motornya. Masih dengan ngos-ngosan dan menata napas, “Kang punten. Ini motor tiba-tiba mati, nggak mau distater. Padahal nggak kehabisan bensin.”


“Udah dicek businya, Neng?” tanya si akang tambal ban


“Eh belum, Kang. Saya nggak ngerti gimana caranya.” jawab Risa


“Yaudah, Neng. Duduk dulu sini. Biar saya cek businya.” kata si akang tambal ban sambil menyodorkan bangku plastik


Hatur nuhun, Kang”, jawab Risa sambil mengipas-ngipas tangannya


Sambil duduk dan mengamati si akang tambal yang membuka busi motor, Risa melamun. Masih seputar kang Ardi. Ia terlalu berbunga-bunga namanya dikenal oleh lelaki yang terkenal seantero kampus.


“Wah iya, Neng. Ini mah businya. Musti ganti kalo udah begini. Butut kieu¹.” kata si akang tambal ban membuyarkan lamunan Risa


Waduh, kumaha atuh nya?²” tanya Risa pada si akang


Lamun bade meser kedah ka bengkel, Neng³.“ kata si akang


“Kang, minta tolong diberesin, bisa? Saya musti ke kampus. Nanti siang, habis dari kampus saya ke sini ambil motornya. Saya bayar ongkos capenya, Kang.” kata Risa setengah buru-buru.


Risa menyelesaikan tanggungannya di Laboratorium kampus dan bergegas mengambil motornya. Menjelang waktu maghrib, semua urusannya hari itu selesai. Memberi makan mencit penelitiannya, mengambil motor di tukang tambal ban, sudah selesai dilakukannya. Risa bergegas kembali ke kos.


Ia segera merebahkan diri di kasur saat membuka pintu kamar kos. Hari terasa begitu melelahkan karena ia harus bulak balik mengendarai angkutan umum berkat ulah motor astreanya. Malam hari, saat semua penghuni kos sudah menyelesaikan aktivitas hari itu, ia segera mendatangi Nurul, 

“Rul, udah makan belum? Makan yuk! Aku mau cerita nih.” 


“Hayuk. Makan apa kita malam ini?” tanya Nurul


“Ayam penyet boleh lah.” jawab Risa malas


Risa dan Nurul hampir selalu makan malam bersama. Hanya itu hiburan mereka saat jauh dari keluarga.


“Mau cerita apa, Ris?” tanya Nurul santai


“Emasak si Bobi tadi ngambek tiba-tiba.” kata Risa


“Lagi?” tebak Nurul


“Iyeee.. Lagi.” jawab Risa


“Nggak usah sengak gitu, Bu. Yang penting sekarang udah baikan dia.” kata Nurul bijak


“Tapi bukan itu inti ceritanya” Risa mulai senyum-senyum


“Nah, terus apa?” Nurul menyelidiki mata Risa


Risa pun menceritakan apa yang dialaminya tadi siang.


“Tau kan kang Ardi? Kok bisa, dia kenal namaku? Apalah aku ini, Rul.” kata Risa menghabiskan teh tawarnya


“Mungkin nama kamu pasaran, Ris.”


“Heih,, serius lah, Bu!”


“Atau mungkin dia punya indera keenam kali. Kamu jangan kepedean dulu! Udah yuk, pulang.” kata Nurul. 


Malam itu Risa masih memikirkan kata-kata Nurul. Ada benarnya juga kata Nurul. Hanya karena kang Ardi mengenalnya, dunia tak akan berubah. Semua masih akan berjalan seperti apa adanya. Tak perlu berlebihan. Namun kata hati Risa tak bisa berbohong. Ia terus memikirkan kang Ardi. Malam itu ia mulai mencari tau semua hal tentang kang Ardi dari facebook, twitter, path, instagram, blogspot. Tak ada sosial media yang terlewat oleh Risa. Dunianya seolah-olah dipenuhi seputar Ardi Tian.

_bersambung_

¹ udah jelek begini

² aduh, gimana ya

³ kalau mau beli harus ke bengkel, Neng

Facebook Comments

2 thoughts on “Jodohku, Maunya Ku Dirimu – 1”

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.