Uncategorized

Kembali ke Masjid (Jilid 2)

Setelah sekian lama, akhirnya kemarin sore saya baru bisa menjamah masjid lagi. Tapi kali ini, saya ke masjid di kampungnya ibu mertua. Alhamdulillah simbah masih sehat, jadi kami semua cucu berkumpul di kampung simbah yang juga tempat kelahirannya ibu.

Kebetulan rumah ibu mertua ini berseberangan persis sama mushola khas kampung. Selepas adzan maghrib dan membatalkan puasa, kami semua bergegas menuju mushola yang jauhnya lima langkah dari rumah. Senang rasanya bisa kembali ke masjid lagi. Apalagi jamaah putrinya memenuhi shof yang tersedia. Yeayyy… Rameee.

Ketika iqomat dikumandangkan, saya bersiap. Namun, ketika sholat maghrib didirikan, jadi campur aduk rasanya. Bacaan imam sholatnya, mmmm…. sulit diungkapkan. Saya bukan yang paling baik. Buuukaaan. Sama sekali bukan. Sedetik kemudian teringat kata bu guru ngaji setahun yang lalu ketika saya baru mulai belajar Al-Quran.

“Belajar hukum-hukum Al-Quran itu wajib bagi tiap muslim.”

Jleb banget buat saya yang terlambat mengetahuinya. Selama ini saya menganggap ngaji saya sudah benar. Tapi ketika ditalaqqi sama si mbak sholihah, rupanya masih buanyak salah di sana sini. Heu,, malu hati. Ingin menangis rasanya. But it’s ok! Better late than never. FIGHTING!

Lalu si mbak sholihah ini cerita, betapa dia sulit sekali menemukan imam masjid dengan bacaan yang pas. Maklumlah, si mbak sholihah pernah menempuh pendidikan di mesir sekaligus mendapatkan sanad mengajinya pun di sana. Suatu ketika si mbak sholihah ini bercerita, dia menemukan seorang imam di masjid dekat rumahnya dengan bacaan Qur’an yang pas. Enak di dengar dan tidak membuat jamaahnya ngedumel. Tidak disangkanya, bahwa sang imam ini adalah pemuda dua puluhan.

Selama ini kita orang indonesia kerap berimej bahwa yang namanya imam itu biasanya sudah sepuh, paling tidak adalah yang dituakan. Naituu,, persis sama yang di masjid kampungnya ibu ini. Sudah sepuh imamnya, tapi bacaannya masih banyak yang kurang pas. Sehingga jamaah jadi nggak konsen sambil pelan-pelan memperbaiki bacaan imam dalam hati saja. Maklumlah, selama setahun terakhir di komplek rantau, kalau sedang sholat ke masjid biasa mendengar imam sholat yang bacaannya fasih khas orang-orang timur tengah. Hmm,, hyuk kita sama-sama mempelajari surat cintanya Allah, biar bertambah kecintaan kita pada Dia.

Ini ceritaku, mana ceritamu?

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.