Menulis My Life One day One Post

Cerita tentang Kopdar dan Kesan untuk ODOP

Di kafe tersebut diadakan acara kepenulisan yang menghadirkan Eka Kurniawan. Saya berulang kali meyakinkan diri membaca rundown yang telah dibuat panitia. Teman-teman ODOP katanya sepakat untuk mengikuti acara tersebut. Maka kakanda mengantar saya ke sana.

Sesaat setelah sampai di pelatarannya, saya menangkap roman tak sedap. Meja yang tersedia penuh sesak oleh teman-teman mahasiswa di Yogyakarta. Mulai dari yang mungkin sekadar nongkrong, hingga yang mungkin serius mengerjakan tugas akhirnya.

Tempat tersebut bukan hanya dipenuhi oleh pengunjung, tapi juga dipenuhi asap rokok disetiap penjurunya. Kondisi saya saat itu adalah membawa satu batita dan satu balita. Apalagi si batita sedang tidur pulas, karena memang sudah jam tidurnya. Enggak cocok dong ya.

Saya sempat berpikir positif untuk mengikuti rundown acaranya sampai selesai. Tapi tidak menemukan satupun teman-teman member ODOP. Perut sudah terasa mual diaduk-aduk dan mulai sesak nafas.

Oke,, selepas sarapan dari penginapan, kami berangkat menuju homestay. Lagi-lagi berbekal waze dan g-maps akhirnya sampai di lokasi acara. Thanks to waze. Kesan pertama yang saya tangkap, tempatnya homey banget. Sejuk. Betah deh berlama-lama di sana.

This is it. Akhirnya pukul 9.30 WIB acara kopdar yang sesungguhnya dimulai. Acara dibuka oleh Mas Lutfi sebagai MC. Dilanjutkan dengan pembacaan ayat Al-Quran oleh mas Rauf.

Itulah kelemahan saya. Tak sanggup menghadapi asap rokok. Daripada terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki, akhirnya kami memutuskan untuk mencari penginapan.

Sebenarnya panitia menyediakan dua homestay yang cukup nyaman. Tapi sejak sebelum hari-h, sudah diworo-woro bahwa homestay hanya bisa ditempati oleh masing-masing 8 perempuan dan laki-laki. Saya mencoba menghitung peserta yang datang. Hasilnya yaa memang sudah cukup.

Ini dia homestay yang nyaman banget

Selama di penginapan, saya terus memantau grup kopdar yang dibuat khusus oleh panitia demi memenuhi rangkaian acara. Rupanya, teman-teman tidak jadi datang ke acara di Kafe Basabasi. Fyuh… Zonk banget lah malam itu. 😣

Subuh hari, sudah masuk pesan pribadi dari Mbak Renee bahwa tempat kopdar dipindah. Tempat yang sebelumnya disepakati di Candi Sambisari, dipindah ke Homestay Griya Langen di daerah Alun-alun Kidul Yogyakarta.

Suara mas Rauf merdu sekali. Tenang mendengarnya. Surat yang dibacanya Ar-Rahman. Seolah menandakan bahwa memang benar bahwa tiada nikmat Allah yang pantas kita dustakan. Bila tanpa nikmat-Nya, kami semua tidak akan mungkin berkumpul diacara yang luar biasa ini.

Acara dilanjutkan dengan sambutan oleh ketua ODOP Mas Ian. Baru kemudian pemaparan singkat dari Mbak Hiday yang dimoderatori oleh Mbak Sakifah. Ini mamak-mamak ketje nih. Beliau akan berangkat mengelilingi Eropa demi mencari data penelitian tesisnya. Luar biasa bukan?

Mbak Hiday menyampaikan banyak hal dalam waktu sesingkat-singkatnya. Tapi jangan salah, dalam waktu yang singkat itu, terselip pesan mendalam.

Ini dia Mbak Hiday

Pesan pertama, kita ini besar dari ODOP yaa sebisa mungkin memberi kemanfaatan lebih juga untuk ODOP. Dengan cara apa? Banyak kok peran yang bisa diambil di ODOP, asal kita mau. Kedua, jangan pernah berhenti menulis. Menurut beliau, sebenarnya jika seharian apa yang menjadi bahan obrolan di grup, itu bisa menjadi tulisan. Sayang jika waktu kita hanya terbuang untuk ngobrol saja. Heu,, iya juga ya.

Sesi foto sebelum Mbak Hiday pulang

Acara dilanjutkan dengan sesi sharing dari Pak Suparto. Beliau ini sesepuhnya ODOP. Usianya sudah kepala enam lho, tapi semangatnya luar biasa. Bahkan menurut pengakuannya sudah 4,5 tahun yang lalu pensiun dari PNS. Hebat bukan?

Pak Parto yang bersahaja

Beliau menyampaikan pesan yang banyak tentang konsistensi menulis. Sudah sepuh tapi masih semangat ngODOP. Kamu ngapain aja, Widh? *tampar diri sendiri

Selanjutnya masih sesi sharing. Tapi saya tidak mengikuti dengan seksama, karena si adik menangis kencang. Sebabnya adalah terjatuh hingga kelingking kirinya berdarah, tapi mamaknya tidak peduli. Heu,, maafkan Ummi ya, Nak.

Saya sempat menumpang disalah satu kamar homestay putri untuk mengASIhi di adik. Berharap ia segera tenang dan tertidur. Tapi nyatanya, dia tak juga tertidur. Pengasuhan kembali saya serahkan pada kakanda, supaya bisa mengikuti kelanjutan acara.

Beberapa yang masih sempat saya dengarkan adalah sharing dari Cak Heru dengan khas sejarawan, Mas Wakhid yang ternyata kalem sangat, dan perwakilan ODOP 5. Saya juga masih sempat mendengar musikalisasi puisi dari Aa Nychken Gilang. Puisinya bodor, sebodor orangnya. Hehe…

Aa’ Gyl yang bodor

Sebelum diakhiri, kami bertukar buku. Jadi, kemarin panitia sempat meminta setiap peserta untuk membawa satu buku dan dibungkus rapi untuk ditukarkan. Setelah semua mendapat satu buku, setiap yang datang mendapat sebuah mug kenang-kenangan dari sponsor.

Siapakah si pemberi sponsor yang baik hati? Rupanya Mbak Titi. Setiap yang datang mendapat satu mug. Baik kan Mbak Titi… Semoga rezekinya dibalas oleh Allah berlipat-lipat yaa, Mbak.

Sayang mug saya pecah saat menurunkan barang-barang dari mobil. Sepertinya tas terjatuh dari bagasi yang full muatan, sementara si mug tersimpan di dalam tas. Saya sangat sedih karena ini. *terpoteque-poteque 😭

Ini dia si mug pecah

Acara terakhir adalah penutupan. Baru setelah itu dilakukan sesi foto. Inilah sesi yang paling heboh dan paling seru sudah pasti. Semua kebagian jatah foto mulai ODOP 1-5, gank laki-laki, gank perempuan, gank kacamata, bahkan grup kentang, grup non fiksi pula. Suka-suka deh.

Teman-teman batch 4 yang istimewa

Oiya, selama acara, saya sempat mencicipi pizza buatan bunda Tita. Bunda Tita ini dari ODOP 3. Satu pengakuan yang mencengangkannya. Usia beliau sudah kepala 5.

Hebatnya meski sudah berusia diatas 50, saya tetap mengira beliau berusia maksimal 40 tahun. Awet muda. Tak nampak ada satu kerutanpun di wajahnya. Lain waktu saya mau nanya tipsnya. Kalau sudah dapat, nanti dibagi deh. Tenang saja. Ihihi…

Kenapa sih saya bela-belain banget datang kopdar pertama ODOP ini? Percaya atau tidak, bagi saya, ODOP ini salah satu grup bentukan baru yang saya merasakan kehangatan di dalamnya. ““`

Sebenarnya dari hati terdalam, saya merasakan waktu yang disediakan panitia sangat kurang. Ingin hati bisa mengajak ngobrol semua yang hadir. Minimal member perempuannya terlebih dahulu.

Member perempuan lintas batch

Kemarin banyak yang saya belum bisa ajak ngobrol secara personal. Seperti Uni Riesa, Mbak Mabruroh yang ternyata kalem sangat, Mbak Sakifah juga. Padahal kan ingin bisa menyerap semua semangat mereka dalam dunia kepenulisan.

Meski pada mulanya semua baru saling mengenal, saat ini semuanya sudah menjadi bagian dari cerita hidup. Sungguh saya bersyukur dipertemukan dengan komunitas ini. Bukan hanya sekadar menerima kulwhap, atau posting tulisan lalu selesai. Lebih lanjut saya merasakan kekeluargaan di dalamnya. Percayalah komunitas ODOP sarat ilmu dan manfaat.

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.