Uncategorized

Anak Ini…

​Akhir-akhir ini saya sudah juarang sekali posting kegiatan mas qean, hampir nggak pernah malah. Ambles ketutup postingan bekal kakanda. Hehe,, Saya nggak pernah post bukan berarti si mas nggak ada kegiatan. Sehari-hari, saya tetap berusaha memberikan kegiatan, meski sederhana. Hanya saja tidak terdokumentasikan dengan baik.

Lagi asik menemani si mas berkegiatan, adiknya ngglundung. Jadi fokusnya terpecah. Huehehe,,, sebenernya adik nggak boleh jadi alasan yaa. Begitu pun sebaliknya si mas juga nggak boleh dijadikan alasan. Tapi apalah daya. Saya hanya emak biasa. Kadang lagi asik berduaan dengan adik, si mas minta pup. Jadiii,,, yaaa gituuu dehhh..

Tanggal 2 Oktober tahun ini, si mas berusia tiga tahun. Mas qean ini kategori anak yang manis menurut saya. Meskipun sesekali bikin naik pitam juga. Hehe.. Ditiga tahun usianya, sampai detik saya menuliskan ini, yang namanya urusan bobo masih harus banget dikelonin ummi. Tangan saya harus nyelempang di perutnya. Posesif banget dah sama ummi. Nggak boleh liat ummi gandengan sama abi, nggak boleh ummi bobo di sebelah abi, “pokoknya ummi-ku”. Oookeee..

Sering saya mbrebes mili ketika melihatnya tertidur pulas. Anak ini yang dulunya tak arep-arep, anak ini yang baru dikasih sama Allah saat memang saya benar-benar siap, anak ini yang nemenin saya menyelesaikan masa-masa kritis urusan pertesisan, anak ini trial and error-nya saya juga kakanda, berjuta harapan bertumpu pada anak ini, selaksa doa kami lantunkan untuk anak ini.

Itulah saya bilang, masih trial and error, saya masih belajar ke sana sini, di sana sini, pada sana sini, untuk meningkatkan kapasitas diri, memantaskan diri, menjadi ibu yang baik untuknya, juga adiknya. Kalo ada yang nggak setuju ‘buat anak kok trial and error?!’,, yaa monggo. Ini murni apa yang saya rasakan. Karena jadi ibu itu nggak ada sekolahnya. Heu… Mau jadi pengacara, guru, dokter, perawat, petani ada sekolahnya, mau jadi pegawe pajek juga ada sekolahnya. Tapi mau jadi ibu, sekolahnya dimana. Heu,,, kalo ada yang nemu, mbok saya mauuuu dibagi informasinya. 

Semoga Allah kuatkan, Allah mampukan, Allah siapkan, saya juga kakanda, untuk menjadikannya raja ditujuh tahun pertamanya, menjadikannya tawanan ditujuh tahun keduanya, dan menjadi kawannya ditujuh tahun ketiganya. Semoga jadi anak sholih wal mushlih, sehat, kuat, serta bermanfaat untuk ummat. Semoga mampu memberi panutan untuk adiknya juga sekelilingnya. Semoga mampu memberi tiket ke surga untuk saya juga kakanda.

Tak ada yang sesempurna Rosul dalam mendidik anak-anak, tak perlu merasa bersalah, kita hanya perlu belajar meniru cara Rosul mendidik anak-anak kita. Ini sih saya aja yg ngerasa. Hiks… Jujurly, saya kerap merasa bersalah karena belum mampu memberi teladan yang baik. Penerapan roleplay komunikasi yang baik aja masih terseok-seok, sumbunya puendek, masih sering terpantik. Kuatkan, kuatkan, kuatkan ya Rabb. 

Di pundak-pundak anak kitalah peradaban kelak akan bertumpu. Ingin memberinya lingkungan yang terbaik, pendidikan yang terbaik, supaya jadi anak hebat. Tapi,,, bukan itu. Saya ingin menciptakan benteng yang baik untuknya, sehingga kelak dia bisa memilah, menyaring, menimbang, dan memutuskan apa yang baik untuknya serta agamanya apa yang tidak, apa yang bermanfaat untuknya serta agamanya apa yang tidak, dan seterusnya dan seterusnya. Mohon doanya, nggih. 

Disclaimer: ini murni tulisan curcol mamak-mamak mengeluarkan hasrat 20.000 kata per hari. 😬

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.