My Life

Melon dan Phobiaku

Melon

Buah berwarna hijau ini sungguh menjadi buah yang disukai banyak orang. Tapi saya mau membagi tahu teman-teman bahwa widhya tidak bisa menikmati baik aroma maupun rasanya.

Dari aromanya saja sudah membuat pusing. Saya lupa kapan terakhir kali makan buah melon. Dulu, dulu sekali, saat usia putih merah, saya pernah makan melon.

Entah bagaimana tepatnya, akhirnya saya tidak bisa mencium aroma melon. Sama sekali. Banyak yang bilang, “Padahal wanginya melon itu enak.” Saya menulis ini aja kebayang-bayang aroma melon yang bikin pusing itu.

Pernah ada satu potongan cerita, bahwa widhya langsung muntah-muntah hebat setelah makan melon. Semua muntahan yang keluar beraroma melon. Fiks, widhya nggak bisa menikmati melon.

Jadi di rumah nggak pernah konsumsi melon dong? Sejak awal nikah sudah pernah cerita ke kakanda soal keluhan ini, soal widhya nggak bisa sama sekali tercium aroma dan makan buah melon. Kalau kakanda dan anak-anak mau makan melon, boleh-boleh aja.

Tapi ada syaratnya. Tentu saja tidak semudah itu, Tuan dan Nona.

Biasanya saat kakanda membeli buah melon, beliau langsung kupas saat itu juga. Selesai dikupas buahnya dipotong-potong seukuran sekali makannya anak-anak, masuk wadah yang kedap udara, tutup rapat, dan masuk kulkas. Apakah selesai sampai di sana? Tentu tidak!

Selama beliau kupas mengupas, saya menyingkir ke kamar. Setelah itu, kakanda akan membuang semua kulit dan biji dari melon dengan membungkusnya terlebih dahulu pakai plastik. Selesai? Belum lah.

Kakanda akan membuang kulit dan bijinya ke tempat sampah. Kakanda juga memastikan dapur tempat mengupas melonnya tadi, sudah bersih dan tidak meninggalkan aroma sama sekali. Bisa dilap dan disiram-siram sabun pencuci piring.

Misalnya di dapur ternyata masih tercium aroma melon, saya bakalan menyampaikan, dan beliau mau lho berepot-repot membersihkan lagi. Widhya hanya akan menutup hidung.

Iya serepot itu. Hebatnya kakanda selalu mau. Memang kakanda ini the best. Beliau yang berhasil membuat kami jatuh cinta sama buah.

Buah-buah di rumah, 80% yang membeli dan mengupas ya kakanda. Saya dan anak-anak tinggal menikmati saja. Beliau juga yang bersemangat mengajak kami makan makanan sehat. Keberkahan meliputimu ya, Kanda.

Teman-teman yang biasa bekerja dengan widhya tahu banget kalau widhya nggak bisa menikmati melon. Tapi widhya nggak menolak kok. Misalnya saat buka bersama dan menyediakan menu es dengan tambahan buah melon. Paling widhya menjauh aja karena benar-benar aromanya membuat diri ini pusing.

Satu hal yang membuat widhya zebel bin kezel saat kakanda mengupas melon adalah anak-anak akan menyodor-nyodorkan melon ke hidung saya. Sebenarnya mereka paham prosedurnya bagaimana setelah makan melon. Setidaknya cuci tangan dan cuci mulut. Kalau mas Q sambpai sikat gigi misalnya habis makan melon dan mau dekat-dekat saya. Nah kalau dek Q bahkan saya minta ganti baju supaya aroma melonnya nggak tertinggal.

Saya setidak suka itu dengan aroma melon. Mungkin aneh. Saya menyadari itu hal aneh dan ini soal pikiran dan bisa sembuh dengan terapi. Semoga suatu saat nanti bisa sembuh. Aamiin.

Kalau teman-teman adakah buah yang tidak disukai? Atau punya cerita serupa? Share dong. Widhya pasang mode cari teman. Hee.

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.