Parenting

Menjadi Orang Tua Terasah, Mendidik Anak Sesuai Fitrah

Rabu, 27 November 2019 lalu, saya berkesempatan mengikuti kajian Ustaz Hary Santosa. Ustaz yang menulis buku Fitrah Based Education.

Buku yang sampai hari ini belum ditamatkan, namun saya bertekad selalu membukanya pada kesempatan-kesempatan tertentu. Bukunya tebal, berisikan panduan-panduan yang sungguh sangat lengkap seputar fitrah anak dan orang tua.

Ustaz Hary membuka kajian dengan pernyataan bahwa tugas utama mendidik anak, sebenarnya adalah tugas ayah. Ayahlah yang berkewajiban untuk mendidik anak. Mengapa? Karena dalam Quran terdapat 17 ayat berisikan dialog orang tua dan anak, 14 diantaranya adalah dialog ayah dengan anak.

Indonesia sudah terkenal dengan label fatherless country, negeri tanpa ayah. Ayah ada tapi tiada, ayah tiada tapi ada. Imbas dari ini, saat ini Indonesia menjadi motherless country. Berkat para ayah yang ada tapi tiada inilah, para ibu akhirnya merangkap bahkan berganti peran menjadi ayah. Ibu ini menjadi bersumbu pendek, mudah marah yang berakibat, hilangnya fitrah keibuan dari diri ibu.

Padahal fitrahnya ayah adalah si raja tega dan ibu adalah pembasuh luka. Ibarat pandai besi yang membuat pedang. Tugas menempa dan membentuk adalah tugas ayah, lalu mendinginkan adalah tugas ibu. Semua harus beriringan.

Bayangkan jika pedang tersebut ditempa terus, akan patah, akan meleleh. Namun didinginkan terus, kira-kira bisa jadi pedang atau tidak? Begitulah tugas ayah dan ibu. Sejatinya fitrah ini tidak hanya ada pada anak, tapi juga pada diri orang tua.

Anak bukan kebetulan. Allah tidak pernah tidak merencakan kelahiran seorang anak. Begitu anak hadir, akan terinstal langsung semua fitrahnya. Orang tua yang bertugas menghidupkan dan membangkitkan instalasi tersebut.

Allah tidak memanggil orang yang mampu, tapi Allah akan memampukan orang tua yang terpanggil. Yakin saja Allah akan memampukan kita menjadi orang tua, jika kita bersungguh-sungguh menjawab panggilan Allah mendidik anak.

Ustaz Hary lalu memberi pertanyaan retorika, “anak Ayah Bunda yang sekarang ini, karunia atau bencana?”

Pertanyaan tersebut dijawab oleh audien kajian, yang sebagian besar para bunda, dengan jawaban hampir serentak, “Karunia.”

Jika anak adalah karunia, maka Ayah Bunda wajib bersyukur. Bentuk bersyukur itu tidak lebai dan tidak lalai. Tidak memproteksi berlebihan namun juga tidak membiarkan berlebihan.

Ada beberapa contoh anak dan masa depan yang disampaikan kepada kami.

  1. Anak baperan, mudah menangis, bahkan cengeng. Masa depannya bisa diarahkan menjadi sastrawan, seniman
  2. Anak cerewet, bawel, ‘kaset rusak’. Masa depannya bisa diarahkan menjadi MC, motivator, trainer, presenter
  3. Anak ngeyel, keras kepala, susah diatur. Masa depannya bisa diarahkan menjadi pemimpin, panglima, komando militer
  4. Anak curigaan, hati-hati, waspada. Artinya dia teliti, maka masa depannya bisa diarahkan menjadi intel, lawyer, reskrim

Tidak mungkin Allah menciptakan anak tanpa fitrah, kemampuan istimewanya. Empat contoh di atas adalah gambaran bahwa setiap anak punya masa depan yang bisa disesuaikan dengan bakat pengiring lainnya. Namun lagi-lagi tergantung bagaimana orang tua menilai dan mengasahnya.

Ustaz kemudian bercerita, dalam sebuah kitab, yang saya lupa mencatat nama kitab dan pengarangnya, tentang kisah pembebasan Palestina. Bahwasannya Negeri Palestina dibebaskan oleh Salahudin Al Ayubi.

penyerahan infak Palestina

Ohiya dalam acara kemarin, PDO (Pengembangan Diri Orang Tua) Sekolah Islam Plus Baitul Maal juga mengadakan penggalangan dana untuk Palestina. Seluruh infak yang terkumpul pada acara tersebut Rp7.160.000,00 dan disalurkan melalui KNRP Banten.

Nah kembali lagi, jika Bunda ingin tahu, bahwa Al Ayubi ini bukan seseorang, melainkan sebuah generasi. Ternyata dua generasi sebelum lahirnya Al Ayubi, para orang tua sudah bersanad Imam Ghozali. Merinding saya menyimak ini. Sementara kita? Apa yang sudah kita lakukan untuk melahirkan Al Ayubi-Al Ayubi lain? Dan jawabnya, belum ada. 😣

Dari cerita di atas, bisa disimpulkan orang tua berperan besar. Ayah pada zaman Al Ayubi menanamkan sendiri pemahaman kitab, salat, dan adab kepada anaknya. Sementara sekarang, kebanyakan pendidikan ini diserahkan ke sekolah. Pemahaman ini perlu diperbaiki, jika kita ingin melahirkan generasi sekaliber Al Ayubi lagi.

Mengajarkan agama dan menumbuhkan akidah adalah dua hal yang berbeda. Saat ini banyak orang yang agamanya tumbuh namun ghirohnya tidak tumbuh. Rajin salat, namun juga rajin maksiat.

Tidak ada anak yang salah gaul, adanya adalah anak yang salah asuh. Anak yang fitrahnya tumbuh sempurna, dia akan seperti ikan dalam air laut. Meski seumur hidupnya di air laut, tidak membuat dagingnya terasa asin.

Ustaz Hary kemudian memunculkan paparan tentang pose Awkarin, ketika lulus dari madrasah berjilbab, dengan nilai lulusan terbaik di Kepulauan Riau, dan tampilan Awkarin yang sekarang. Yah, semua bunda milenial pasti mengenal sosoknya, bagaimana dia mengumbar tubuhnya, mengumbar cerita pacarannya di sosial media secara bebas, dan sebagainya. Awkarin adalah satu contoh anak yang hilang fitrah akidah dan fitrah seksualitasnya.

Anak perempuan yang tidak dekat dengan ayahnya berkemungkinan lebih besar untuk melepas kerudungnya di usia dewasa dan akan mencari perhatian dari ruang publik. Riset membuktikan anak 10-15 tahun yang tidak dekat dengan ayahnya, enam kali lebih besar peluangnya akan menyerahkan tubuhnya pada orang lain.

Anak perempuan yang dekat dengan ayahnya memiliki peluang besar untuk mendapatkan jodoh good boy, tidak akan memilih jalan pacaran untuk mendapat perhatian, dan memiliki kecerdasan sosial yang baik.

Sementara anak laki-laki di usia 10-15 tahun dekatkan ke ibunya, supaya lebih sensitif, tidak menjadi laki-laki yang garing, punya kemampuan memilih jodoh yang baik, dan tidak mungkin akan pacaran untuk membagikan perhatiannya karena ia memiliki ibu yang bisa diperhatikan. Kuncinya perbanyak dialog, bukan interogasi. PR sekali ini bagi saya. 😣

Inilah sebabnya, jika ada suami yang garing, mendengar tapi tidak mendengar, bisa jadi karena ia tidak dekat dengan ibunya. Salah satu solusi untuk membuat suami mau mendengar adalah kembali dekatkan ia dengan sosok ibu. Jika ibunya telah tiada, bisa budenya, kakaknya, tantenya.

Rasulullah saja pernah dicurhati oleh Aisyah tentang 11 ummahat dan Rasul menyediakan telinga penuh untuk mendengarkan. Setelah selesai Aisyah menceritakan 11 ummahat tadi, Rasul kemudian menarik ibroh dari setiap kisah ummahat yang diceritakan kepada Aisyah sebagai pelajaran.

Ayah, Bunda, jangan khawatir dengan rezeki. Khawatirlah jika fitrah anak tidak tumbuh. Hidup sejatinya adalah tentang mengantarkan anak pada peran peradaban. Anak usia 15 tahun seharusnya sudah diperlakukan sebagai partner dakwah, partner bisnis. Karena 15 tahun sudah mukalaf yang bukan hanya wajib ibadah, tapi juga wajib mandiri. Rasul saja 15 tahun sudah menjadi kafilah dagang ke Syam.

Banyak sekali PR kami sebagai orang tua di zaman ini. Raise yourself to raise your child. Need a village to raise a child. Yuk kita bergandengan tangan demi menjadi orang tua terasah dan mendidik anak-anak sesuai fitrah.

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.