Menulis Review

Nobar Film Iqro My Universe

sumber: ini

Sabtu, 19 Juli 2019, saya mendapat kesempatan untuk menonton film Iqro My Universe. Ini film yang kabarnya digarap langsung oleh Salman Film Academy. Iya Masjid Salman ITB.

Ketika mendapat kesempatan ini, sejujurnya saya merasa senang. Apalagi nontonnya bareng sama teman-teman santriwan santriwati serta para asatizah dan ustazah Rumah Tahfidz Khodijah. Acara nobar kemarin beraroma Quran lah pokoknya.

Teman-teman santriwan santriwati berkumpul dan berangkat dari RTK di Tamanmangu, Pondok Aren. Eh eh, teman-teman ini berangkat naik angkutan umum yang disewa lho. Seru deh dengar ceritanya. Saya terpaksa berangkat dari rumah karena satu dan lain hal.

Suasana panitia mengatur pembagian tiket

Alhamdulillah ketika saya sampai, teman-teman juga pas banget baru sampai. Nobar kemarin dilaksanakan di Cinema XXI Lotte Bintaro.

Sebelum acara dimulai, lima orang satriwati dari RTK membacakan hafalan surat An-Naba’. Gimana nggak beraroma Quran coba? Mau nobar aja udah ketemu Quran.

Nah, yang bikin acara nonbar kemarin lebih spesial, dihadirkan di tengah-tengah kami, Bang BS, Presiden Mata Sinema Indonesia. Beliau sempat menceritakan awal mula berdirinya Mata Sinema Indonesia pada tanggal 29 Januari 2016.

Foto bersama Bang BS sebelum mulai nonton

“Kami ingin mengawal lahirnya film-film baik dan berkualitas di Indonesia. Tontonan itu juga harus menjadi tuntunan, bukan hanya sebagai hiburan.” Begitu kata Bang BS.

Benar juga sih. Saya pribadi ingin film-film baik terus bermunculan, yang seperti kata Bang BS itu. Bukan hanya memberi tontonan, tapi juga dapat menjadi tuntunan. Keren ya. Kita doakan semoga bang BS dan teman-teman istiqomah menebar kebaikan melalui karya-karya yang baik.

Nah, tepat pukul 10.00 WIB, filmpun akhirnya diputar. Saya yang kebetulan mendapat duduk di kursi depan, tetap berusaha menikmati. Sejauh yang saya lihat, film ini keren. Terlepas dari konflik-konflik dan drama-drama yang dikonsep kurang matang, tapi banyak ibroh yang bisa diambil.

Anak-anak diajarkan untuk memiliki impian setinggi langit dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengejar mimpinya. Jangan lupa libatkan Allah dan orang tua dalam setiap keputusan. Film ini juga mengajarkan sisi kemanusiaan.

Salut ketika Aqilla, pemeran utamanya, diceritakan memilih menolong ayah Fauzi daripada menuntaskan kegiatan transfer file dari telepon pintarnya ke laptop. Hingga berujung pada telepon pintarnya yang nyemplung ke akuarium dan gagal mengikuti lomba vlog, berkat ulah sang adik.

Intinya berusaha maksimal itu perlu, sisanya biar Allah yang mengatur. Entah bagaimana ceritanya, pada akhirnya Aqilla berhasil berkunjung ke International Space Centre berkat undangan Bu Tsurayya yang terkesan oleh kerja keras dan perjuangan Aqilla.

Berusaha maksimal boleh, setelahnya kita harus berserah pada Allah atas apapun ketetapan-Nya. Yakin deh, Allah itu kalau mau kasih rezeki bisa darimana saja. Bahkan dari jalan yang tiada disangka-sangka. Ini sih makna yang saya dapat setelah menyaksikan sendiri film Iqro My Universe. Salut luar biasa sineas Indonesia bisa menghasilkan karya sekeren Iqro.

Nah, saya sendiri akan merekomendasikan teman-teman untuk berbondong-bondong menonton film ini. Tapi saya tidak merekomendasikan anak usia dibawah 8 tahun untuk turut menyaksikan film ini. Saya yakin banyak yang anak-anak belum bisa memahami karena konfliknya khas orang dewasa sekali. Yuk, buruan ramaikan bioskop untuk menonton film ini, sebelum turun layar.

Rona bahagia santriwan santriwati

Acara nobar kemarin terlaksana berkat kerjasama Generasi Sahabat Quran, Mata Sinema Indonesia, dan Cinema XXI Lotte Bintaro. Terima kasih pihak terkait dan panitia, akirnya santriwan santriwati mendapat tontonan yang menghibur dan bermakna.

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.