Menulis Parenting

Perjuangan Sekolah Dek Q

Hari ini, 12 Juli 2019, adalah hari resmi dek Q masuk sekolah. Sebelumnya ada satu kali dek Q masuk kelas tapi untuk keperluan observasi. Istilahnya, sit in, semacam kelas penilaian apakah dek Q siap jadi murid atau belum.

Baiklah karena ada beberapa yang rikues untuk minta diceritakan seputar proses masuk sekolahnya dek Q, maka saya akan ceritakan proses yang kami jalani ya. Disclaimer, ini murni cerita isinya tsurhat, dan puanjang buanget udah mirip coki-coki. Yang nggak mau menyimak boleh diskip. Here we go.

Perjuangan dimulai akhir bulan Oktober tahun 2018. Kok kebelet amat mamak dek Q sekolahnya masih Juli, tapi Oktober sudah berjuang. Iya, ketentuan sekolah swasta di seputaran rumah tinggal kami, berbeda-beda. Kebetulan sekolah yang kami tuju, sama-sama membuka pendaftaran di bulan Oktober.

Ada lagi yang bertanya, masnya sudah di sekolah X kenapa adiknya susah-susah daftar sekolah Y? Kenapa si mas dan adik beda sekolahnya? Saya akan menjawab dengan senyum, memangnya kakak dan adik harus sama? Hehe.

Jauh waktu sebelum bulan Oktober tiba, saya memang berpesan ke beberapa teman yang sudah menyekolahkan putra putrinya di sekolah si adik. Saya sekadar meminta informasi, kapan waktu pembukaan pendaftarannya. Itu saja.

Alhamdulillah berkat informasi-informasi dari beliau ini, saya berhasil tahu waktu pendaftarannya adalah 27 Oktober. Baiklah Sabtu pagi, sekitar pukul 5.30, kami berangkat dari rumah. Sejujurnya merasa horor mendengar cerita, bahwa harus jam 4 pagi banget mulai mengantri.

Sampai di sekolah pukul enam dan ternyata pintu gerbang masih dikunci dong. Jadi boro-boro bisa masuk. Antrinya itu ya di depan gerbang sekolah. Sambil berdiri, saya menajamkan telinga. Bahwa ada juga orang tua yang mulai datang dan mengantri sejak pukul empat. Salat subuhnya bahkan gantian sama istrinya. We-o-we ya.

Kami? Santai buanget. Berangkat santai, woles. Anak-anak ikut semua, berasa mau jalan-jalan aja bukan mau daftar sekolah. Kami berpikir, kalau rezeki pasti nggak tertukar. Anak sudah bawa rezekinya masing-masing dari lahir, Mak. Jangan khawatirlah. *ntms

Kalau memang nggak dapat formulir, ya sudah. Cari yang lain lagi. Kalaupun dapat formulir, anaknya masih ada proses observasi, masih harus ngobrol bersama psikolog, masih wawancara orang tua juga. Intinya masih ada kemungkinan untuk tidak diterima, ini pikiran kami. Sesimpel itu? Iya. Sesimpel itu.

Soalnya waktu mengantri itu, di sebelah saya ada orang tua yang dari penuturannya ngebet banget harus sekolah di sana. Ketika anaknya observasi jenjang kelompok bermain, katanya cuma nangis tok. Jadi nggak ada penilaian yang bisa diambil oleh para guru dan psikolog, sehingga tidak diterima. Pun cerita yang sama terulang ketika mendaftar jenjang TK. Akhirnya sang ibu legawa mendaftar kembali ke jenjang SD. Tapi saya kurang tahu apakah akhirnya diterima atau tidak, karena jadwal setiap jenjang berbeda.

Masih di hari tanggal 27 Oktober 2018, pintu gerbang dibuka pukul tujuh pagi. Kebayang ya itu antrian orang tua langsung mbrudul. Alhamdulillah pihak sekolah sudah berpengalaman. Jenjang KB (Kelompok Bermain) ada lajurnya sendiri. Begitu juga dengan jenjang TK, SD, dan SM. Saya masih santai ambil lajur KB, sementara kakanda menggiring dua anak bermain.

Alhamdulillah, antrian di KB tidak sepanjang TK, SD, dan SM. Total dalam antrian KB tidak sampai 10 orang waktu itu. Setelah masuk antrian, akan mendapat nomor, yang nanti akan ditukarkan dengan formulir.

Setelah mendapat nomor antrian, para orang tua diminta menuju ruang aula dan diberi pengarahan oleh prinsipal dan kepala sekolah. Pengarahannya tentang apa? Banyak. Tentang sistem belajar, tentang nilai-nilai yang akan ditanamkan, dan bahwa sekolah adalah mitra orang tua. Ini menjadi poin pentingnya.

Saya banyak mendengar dan membaca cerita orang tua yang merasa sudah menyekolahkan di sekolah keren bin mihil, lalu merasa lepas tangan terhadap pendidikan anaknya. Nah, kalau di sekolah si adik ini, dari awal orang tua sudah diwanti-wanti untuk banyak terlibat aktif dalam kegiatan yang diadakan sekolah. Bahkan ada nota kesepahaman yang harus ditanda tangan oleh kedua orang tua di atas materai.

Mendegar pengarahan dari sekolah, kami senang, kami berbinar-binar, dan merasa ini akan cocok untuk dek Q. Meski waktu itu, kami belum tahu apakah akan diterima atau tidak. Hahaha, memang kadang-kadang selucu itu.

Selesai mendapat pengarahan, kami akan dipanggil satu demi satu sesuai nomor urut yang sudah dikantungi, kemudian ditukarkan dengan formulir. Biaya formulir waktu itu bisa dibayarkan via transfer dengan nomor kode khusus, setiap anak berbeda. Sukses formulir didapat, orang tua hanya diberikan waktu satu pekan untuk mengisi dan mengembalikannya.

Formulir dikembalikan, kami tinggal menunggu jadwal dari bagain office yang disampaikan via whatsapp untuk observasi, wawancara, dan sebagainya. Setiap jadwal yang dikirim ke orang tua, berbentuk file pdf dan kecil kemungkinan untuk nlisut atau terselip. Kalau lupa, tinggal buka file, klik dikit di kolom search, dan ketemu. Ini cocok untuk orang tua slebor macam saya. *jujur

Saya ingat, jadwal untuk observasi, kebetulan bersamaan dengan waktu pernikahan pamannya dek Q. Kami menginformasikan soal itu, alhamdulillah langsung dijadwal ulang. Aman. Sepekan setelah observasi, kami bertemu dengan psikolog yang mengamati sesi observasi dek Q.

Hasilnya, dek Q dinyatakan siap bersyarat untuk masuk sekolah dengan jenjang usianya yaitu KB B. Usianya harus tiga tahun saat Juli 2019, ini menjadi syarat mutlak. Hasil boleh dibawa pulang dan kami menunggu jadwal untuk wawancara orang tua. Sampai tahap ini, kami masih merasa santai, kemungkinan tidak diterima masih ada soalnya.

Waktu wawancara orang tua tiba, saya dan kakanda lebih banyak menjawab dan menerangkan kondisi anak. Masih santai, jawab apa adanya. Seputar apa yang ditanyakan? Sejujurnya saya lupa. Ohiya ada pertanyaan seputar apakah dek Q imunisasi atau tidak. Pihak sekolah juga tidak memaksa jika ada orang tua yang menginginkan anaknya tidak ikut imunisasi, dengan menandatangani formulir. Karena sekali waktu sekolah juga mengadakan imunisasi, sesuai program yang digulirkan dinkes.

Setelah itu, masih ada proses pengambilan hasil. Ini juga saya masih santai. Malah mengiranya dek Q nggak keterima. Hahaha, ini mamak niat mau masukin sekolah anaknya apa enggak. Soalnya cerita seorang teman, dia sampe malamnya nggak bisa tidur kepikiran anaknya keterima atau tidak lho. Maklum kuota jenjang tertentu hanya sedikit, sementara pendaftarnya membludak.

Surprisingly, dek Q dinyatakan diterima. Baru mamak cekit-cekit (Kalau cekot-cekot kok sajake mumet tenanan). Agak mikir, ini anak nanti bisa sekolah apa enggak, bisa beneran lepas dari mamak apa enggak, dan seterusnya dan seterusnya. Mohon dimaklumkan, dek Q ini hampir nggak pernah jauh dari mamak. Kalaupun iya, biasanya masih dalam radar.

ini alur singkatnya

Setelah diterima apa yang dilakukan orang tua selanjutnya? Seminar parenting. Dua hari berturut-turut dari jam tujuh pagi hingga maghrib menjelang. Ini program wajib dari sekolah. Orang tua yang mendaftarkan anaknya di sana wajib untuk mengikuti PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak).

Misalnya tahun ini baru bisa ibunya saja yang ikut, mungkin karena sang ayah ada urusan tertentu. Maka akan disarankan untuk keduanya mengikuti kembali, secara bersamaan, ditahun berikutnya. Kenapa begitu? Sekolah hanya ingin orang tua memiliki frekuensi yang sama sebelum anaknya bersekolah.

Sejujurnya, setelah mengikuti acara itu saya menyesal. Menyesal kenapa baru sekarang ikutan PSPA, kenapa nggak dari dulu-dulu. Nyatanya, PSPA benar-benar memberi dampak teramat besar terhadap pemahaman dan kekompakan saya juga kakanda dalam merawat dua bocah. Hahaha, enggaklah kami merasa yang paling baik atau paling benar. Kami masih buanyak kurangnya, khilafnya, lupanya dalam merawat, mendidik, membesarkan mas Q dan dek Q. Saya terutama. Heu.

Saya yakin, di luar sana banyak kok orang tua yang sudah berhasil membesarkan anak-anaknya tanpa PSPA, tanpa seminar-seminar parenting kekinian. Percayalah, itu pasti karena keimanan dan kedekatan mereka terhadap penciptanya yang sangat besar. Sementara saya, hamba yang hina dina, banyak alpanya, amalan pas-pasan, ibadah angot-angotan, merasa perlu banget untuk belajar.

Jadi guru ada sekolahnya, jadi akuntan ada sekolahnya, jadi dokter ada sekolahnya. Tapi jadi ibu, jadi bapak, ada sekolahnya kah? Kalau ada, mbok saya dikasih tahu. Saya tertarik untuk jadi siswanya. Beruntung sekolah dek Q njorogin kami untuk ikut PSPA. Eh beneran, ini PSPA rekomendid banget.

Nah, tahap terakhir adalah daftar ulang, pengukuran seragam, dan selesai. Seragam dek Q juga cuman sebiji yang dipakai di hari Jumat saja. Oiya, sekadar informasi, dek Q sekolahnya hanya tiga hari yaitu Senin, Rabu, Jumat. Dua hari pertama masuk jam 7.30 pulang jam 10.30 WIB. Hari Jumat masuknya sama, pulangnya jam 10.00 WIB, setengah jam lebih cepat.

Finally, hari ini tiba. Sejak kemarin lusa, saya dan kakanda sudah diinvite ke dalam grup kelas dek Q. Informasi seputar KBM disampaikan melalui grup tersebut. Apa saja yang dibawa ke sekolah? Ada sepatu boot, baju ayah (maksud sebenarnya), jas hujan, camilan (No MSG dan No kemasan), dan air minum.

Ceritanya bersambung

Maapkan tulisan tsurhat ini terlalu panjang.
_bersambung

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.