Uncategorized

Polemik Ustadz Abdul Somad 

Ustadz Abdul Somad, Lc., M.A. Siapa yang tak kenal sosoknya. Beliau adalah salah seorang penceramah yang sedang naik daun. Melalui kajiannya beliau kerap mengulas ilmu hadits dan ilmu fiqih.

Namanya banyak dikenal publik karena ilmu dan keterus-terangannya dalam berretorika. Kajian-kajian beliau tajam dan menarik, sehingga tidak sedikit yang menggandrungi ceramahnya. Sangat mudah mencari dan menemukan ceramahnya di situs berbagi video seperti YouTube. Tak jarang beliau membahas soal nasionalisme dan berbagai masalah terkini yang sedang hangat di kalangan masyarakat. Tentunya dengan pembahasan yang unik, cerdas, dan lugas.

Ustadz Abdul Somad atau lebih sering dipanggil dengan nama keren UAS ini, sejak kecil dididik melalui sekolah berbasis tahfidz Alquran. UAS menamatkan kuliah dari Universitas Al Azhar melalui program beasiswa. Di tahun 2004, pemerintah Maroko menyediakan beasiswa pendidikan S2 di Institut Dar Al-Hadis Al-Hassania. Setiap tahun Institut ini hanya menerima 20 murid dengan rincian 15 murid warga Maroko dan 5 lainnya adalah warga negara lain. UAS menjadi salah satu yang terpilih dari penerimaan 5 warga negara lain. Pendidikan S2 tersebut beliau tuntaskan dalam 11 bulan saja.

Belakangan santer tersebar kabar ihwal penolakan ceramahnya di berbagai tempat. Baik di luar negeri hingga dalam negeri sendiri. Salah satunya di Hongkong dan Bali. UAS dikabarkan dideportasi oleh petugas imigrasi Hongkong. Kronologis kejadiannya, Ustadz Abdul Somad bersama dua asistennya tiba di Hongkong International Airport pada tanggal 24 Desember 2017 pukul 16.00 waktu setempat. Di tempat terpisah UAS diperiksa oleh otoritas bandara selama kurang lebih 30 menit lamanya. Dari hasil pemeriksaan tersebut, UAS kemudian ditolak masuk ke negara tersebut. Beliau dipulangkan pada hari yang sama.

Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia di Kementerian Luar Negeri, menjelaskan bahwa sesuai hukum internasional, pihak otoritas Hongkong memang tidak berkewajiban untuk memberi klarifikasi apapun mengenai alasan penolakan masuknya Ustadz Abdul Somad ke wilayah mereka. Namun penolakan tersebut diduga karena ditemukan kartu nama Rabitah Alawiyah saat pemeriksaan UAS. Kartu nama tersebut sempat dipertanyakan oleh petugas. Rabitah Alawiyah adalah organisasi bentukan tahun 1928.

Hikmah dibalik penolakan UAS di Hongkong, membawanya ke Aceh. UAS diizinkan oleh Allah untuk memandu sekaligus mengikuti dzikir dalam rangka 13 tahun tsunami bersama tokoh lainnya. Kehadirannya di Aceh disambut dan dijamu dengan sangat baik oleh pemerintah serta penduduk setempat.

Sebelumnya, pada 8 Desember 2017, Ustadz Abdul Somad juga dikabarkan mendapat penolakan di Pulau Dewata, Bali. Para anggota organisasi masyarakat di Bali memaksa mendatangi Hotel Aston Denpasar, dimana saat itu UAS sedang berceramah. Menurut Kepala Kepolisian Resort Denpasar, hal itu terjadi karena para anggota ormas tersulut informasi simpang siur menyoal profil Ustadz kelahiran Sumatera Utara tersebut. Meskipun sempat terjadi ketegangan, kajian Ustadz Abdul Somad tetap berjalan.

Ketua Umum Syarikat Kebangkitan Pemuda Islam (SKPI), Farhan Hasan, mengatakan bahwa kejadian tersebut mencoreng nilai-nilai Pancasila. Menurutnya, selama ini umat Hindu di Bali terkenal paling toleran terhadap tamu-tamu yang datang ke Bali. Tindakan tersebut dinilai menyakiti hati umat Islam dan mampu memecah belah kebhinekaan yang telah terbentuk selama ini. Ketua umum SKPI berharap kepolisian dapat menindak tegas setiap pelanggaran yang dilakukan oleh anggota ormas yang telah menyakiti umat Islam.

Meskipun banyak mengalami penolakan, Ustadz Abdul Somad tetap melakukan safari dakwah. Hal tersebut tak sedikitpun menyurutkan niatnya. Kajian-kajiannya hampir selalu membludak. Sosoknya yang tenang dan sederhana semakin menyedot perhatian masyarakat.

#onedayonepost

#nonfiksi

#tantanganartikel 

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.