One day One Post Review

Resensi Film Notting Hill 

The smile on your face
Lets me know that you need me.
There’s a truth in your eyes
Saying you’ll never leave me.
The touch of your hand says you’ll catch me wherever I fall.
You say it best when you say nothing at all
(When You Say Nothing At All – Ronan Keating) 


Sudah sejak lama ingin sekali nonton film yang soundtracknya sudah saya hafal betul ini. Ada yang bisa nebak? Yeap! Notting Hill.

Film Notting Hill rilis tahun 1999. Film ini diperankan sangat apik oleh Julia Roberts dan Hugh Grant. Pertama sekali saya nonton film mbak Julia Roberts itu Pretty Woman. Asli sesembak ini tampak memesona dan sangat berkilau. Di film ini pun sama. Julia Roberts tampak sangat cantik memukau, bak seorang dewi. Iri deh. 

Begitu pula Hugh Grant. Sekitar tahun 2010, pertama kali saya nonton filmnya mas (eh, apa om?) Hugh Grant. Perannya dalam Music and Lyrics pun cukup memukau. Om Hugh Grant ini, bagi saya, salah satu aktor yang makin tua, makin matang. Makin ngganteng lah ya. Eaaa, jadi kemana-mana.

Yaa ampun, saya bahkan masih kelas 5 sekolah dasar saat film Notting Hill rilis, tapi sudah hafal soundtrack-nya. Dulu masih ngetrend Boyzone dan Westlife. Saya salah satu penggemar lagu-lagu dan vokalisnya tentu saja. Ehehe…

Ada satu lagi soundtrack dari film ini yang sudah sejak lama saya hafal, You’ve Got a Way – Shania Twain. Sejujurnya, selain tantangan resensi film dari kelas non fiksi ODOP, dua lagu ini yang mendorong saya untuk nonton Notting Hill.

Dulu belum berani nonton karena genre-nya film dewasa dan lebih karena nggak ada alasan untuk nonton sih sebenarnya. Ehehe,, Saya kurang suka nonton film. Jadi jarang, hampir tidak pernah nonton. Berhubung terdesak tantangan, akhirnya semalam menyempatkan nonton juga.

Aniway, cerita dalam film ini sederhana, menyuguhkan perjalanan kisah asmara dua insan berbeda kasta. Anna Scott (Julia Roberts) adalah seorang artis terkenal papan atas yang sedang promo film terbarunya di London. Diwaktu senggangnya, ia mengunjungi toko buku traveling milik William Thacker (Hugh Grant). Apa yang Anda lakukan bila secara tidak sengaja bertemu dengan artis terkenal? Minta foto lalu dibagikan ke media sosial gitu kali ya kalo sekarang mah.

Namun, hal berbeda ditunjukkan oleh William. Di sini Om Hugh Grant digambarkan lelaki dewasa dengan rambut belah tengah yang ngetren di era 90an. Ia pria biasa-biasa saja, yang dicerai istrinya tanpa alasan jelas. Hidupnya hanya dipenuhi oleh buku-buku. Ia tak tertarik lagi pada berita kekinian. Maka ketika ia bertemu dengan Anna, yaa biasa saja. Seperti ia bertemu orang biasa. Tidak ada yang istimewa. Kunjungan Anna yang sesaat itu cukup membangkitkan gairah asmara William.

Cerita dilanjutkan dengan William yang menumpahkan jus ke baju Anna karena bertubrukan secara tak sengaja, saat jam makan siang, dihari yang sama. Betapa terkejutnya William bahwa perempuan itu adalah perempuan yang sebelumnya berkunjung ke toko bukunya. William berhasil memaksa Anna membersihkan diri dan berganti pakaian di rumahnya yang tak seberapa jauh dari lokasi kejadian. Sikap William yang canggung dan sopan membuat Anna cukup terkesan, hingga Anna mendaratkan sebuah ciuman dibibir William.

Hari-hari berikutnya William mendapat kesempatan bertemu dengan Anna. Namun tidak semua cerita mengalir santai. Setidaknya ada dua kejadian dalam film yang cukup membuat saya tegang. Pertama, saat William dan Anna dalam asmara yang baik, lalu Anna nekat memaksa William untuk menginap di hotelnya. Namun malang, kekasih Anna dari Amerika sedang berada di kamarnya. William yang sudah berada di depan pintu kamar Anna, mengaku dan berakting menjadi pelayan hotel. William diperlakukan kurang sopan oleh kekasih Anna. Bahkan William terpaksa menyaksikan Anna dicium mesra oleh kekasihnya. Di sini saya sesenggukan. Cemen yak.

Konflik kedua, saat Anna mencoba menenangkan diri dari masalah, ia memilih mendatangi rumah William. Banyak hal mereka lakukan bersama. Anna pun bermalam di rumah William. Namun lagi-lagi malang, keesokan paginya, saat terbangun, pintu rumah William dikepung oleh ratusan kamera wartawan. Anna yang berniat menenangkan diri, merasa malah didera masalah. Semua itu berkat kelakuan Spike, teman satu flat William yang ceroboh. Pertengkaran William dan Anna tak terelakkan. Anna pergi begitu saja dalam kondisi marah. 

Hari-hari selanjutnya menjadi hari yang berat bagi William. Ia yang sedari awal bertemu Anna hari-harinya menjadi kembali berwarna, kini seperti terhempaskan oleh keadaan yang bahkan tidak ia kehendaki. Selama enam bulan lamanya William mencoba melupakan Anna dari hidupnya. Sahabat-sahabat William mencoba mengenalkan dengan beberapa perempuan. Namun hasilnya nihil. William masih menginginkan Anna. 

Sebuah kondisi membuat William lagi-lagi bertemu Anna. Pada kesempatan itu, secara tegas ia menolak Anna. Ia tak siap dengan ritme kehidupan artis seperti Anna. Ia hanya pria biasa dengan segala kecupuan. Sesaat setelah menolak Anna, William menemui sahabat-sahabatnya. Kesemua sahabat William awalnya menyetujui pilihannya, namun ia berubah pikiran didetik-detik terakhir. Ia berusaha mengejar kembali Anna dalam waktunya yang sempit. Semua sahabat William mendukung pilihannya.

Menjelang akhir, diceritakan William berhasil bertemu Anna dalam sebuah konferensi pers dan Anna menerima cinta William. Adegan ditutup dengan Anna tertidur di pangkuan William, pada sebuah kursi panjang di taman yang indah. Tangan mereka berpegangan. Perut Anna membuncit pertanda ada sebuah kehidupan didalamnya, hasil hubungannya dengan William. Happy end. 

Baper liat yang ini

Aah… sebenarnya film ini biasa saja. Latar pengambilan film lebih banyak di rumah William, toko buku William, di rumah sahabatnya, dan jalanan dekat toko buku William. Biasa kan.  Akting dua pemain kawakan sekelas Julia Roberts dan Hugh Grant jelas mendongkrak film ini.

Saya suka film jenis begini nih. Minim edit dan tidak ada peran animasi dalam film Notting Hill. Malas nonton film zaman now itu, karena animasinya terlalu berperan. Tapi kembali lagi, ini soal rasa ya. Beda sama kakanda, kalau diajak nonton film genre lope-lope begini, pasti mundur teratur. Doi lebih suka film sejenis Pacific Rim, Batman, yang jelas-jelas ada animasi disana-sini, ditiap scene

Nah, saya orang yang susah move on. Film romansa semacam Notting Hill ini, seru untuk ditonton berulang-ulang. Yuk yuk,, nonton film ini sama saya. 

#onedayonepost

#nonfiksi

#tantanganresensi 

Facebook Comments

2 thoughts on “Resensi Film Notting Hill ”

  1. Wah saya kok belum pernah nonton film ini ya mba. Aduh ketinggalan saya. Padahal pemainnya bintang terkenal. Hadeuh. Oh ya maaf mau tanya. Ini mba Widhya yang suka ke rumah Mba Iin bukan ya? Hehehe

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.