Uncategorized

Segelas Sirop Priceless

Hari ini menjadi hari kedua si sulung belajar puasa. Kenapa baru sekarang? Ya karena usianya yang masih lima tahun. Tahun-tahun sebelumnya kami sebagai orang tua, memang hanya sebatas sounding saja bahwa kita masuk bulan ramadhan, bahwa pada bulan ini semua orang berpuasa, bahwa puasa itu mendapat pahala, dan seterusnya.

Baru tahun inilah saya dan kakanda serius melatihnya berpuasa. Sounding sudah dimulai sejak dua bulan lalu. Semakin gencar dua pekan terakhir.

Ahad, malam saya bertanya padanya bagaimana cara terbaik yang si sulung mau untuk bangun sahur, apa yang diinginkannya untuk santap sahur, dan seterusnya. Alhamdulillah sulung kami termasuk anak yang mudah bangun. Dua hari ini tanpa drama. Dibangunkan ya langsung bangun.

Hari pertama meminta sahur roti bakar. Dia berpuasa setengah hari. Waktu dhuhur makan jagung manis satu mangkuk, minum air putih, dan lanjut puasa hingga maghrib.

Hari kedua sahurnya mau sereal disiram susu. Jam tujuh pagi sudah bilang lapar. Duh… mamak harus putar otak.

Dalam keseharian saja, biasanya anak ini mudah sekali bilang lapar, apalagi diajak puasa. Tapi saya belajar konsisten.

Ketika si anak bilang, “Aku lapar”. Maka saya akan menjawab, “Iya, Mas lapar. Ummi tahu mas lapar”. Lalu masalah selesai? Selesai untuk menit itu.

Menit berikutnya dia akan konsisten pula mengatakan hal yang sama. Maka saya akan menjawabnya dengan hal serupa. Tidak langsung menolaknya. Saya tahu bahwa si sulung hanya ingin diterima perasaannya bahwa dia lapar.

Saya rela mengajaknya bermain dari satu rumah temannya ke rumah yang lain lagi, demi mengalihkan perhatiannya dari rasa lapar. Kemarin saya mencoba memberinya aktivitas menggunting, menempel, dan origami, tapi kurang manjur. Ternyata lebih manjur diajak main di rumah teman-teman seusianya.

salah satu aktivitas yang dilakukannya

Selama di rumah temannya, bukan tak jauh dari godaan. Teman-temannya bersantap semangka, karena memang bertepatan dengan jadwal snack time. Tapi dia bergeming. Saya padahal sudah was-was bila si sulung akan rewel bahkan merengek. Alhamdulillah aman.

Mungkin dia terlatih dari rumah. Bagaimana tidak? Adiknya yang masih berusia tiga tahun, sering sekali makan di hadapannya. Bahkan menawarkan apa yang sedang dimakan si bungsu kepada masnya, “Mas mau?” dengan pertanyaan yang sangat menggoda. Alhamdulillah sejauh ini masih aman.

Memang si sulung masih sering berkata lapar. Sayapun hanya menerima perasaannya. Bukan menolaknya. Itu saja. Belajar bersabar sambil terus sounding.

Dhuhur tadi, ketika adzan terdengar dari rumah kami, ia bahkan lupa. Saya yang mengingatkannya, “Mas minum dulu air putih”. Rona bahagia langsung terpancar dari wajahnya. Saya memberinya apresiasi karena telah berhasil melalui setengah harinya yang saya yakin tidak mudah, dengan pelukan dan segelas sirop.

Percayalah, melihat senyumnya ketika saya menyodorkan segelas sirop rasa lemon, sungguh priceless, tak tergantikan dengan apapun. Setelahnya saya peluk si sulung penuh rasa haru sambil medoakannya. Semoga Allah menerima dan memberkahi usahamu menahan lapar dahaga ya, Sholih.

#day_2
#onedayonepost
#rwcodop2019

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.