My Life

Selalu Ada Drama di Balik Wisuda

Selalu ada drama di balik wisuda. Gimana enggak?! Begini ceritanya…

Pertama, bulan Juli 2011 saya musti melaksanakan wisuda diploma 4 di politeknik negeri jember. Saat itu saya masih manten baru 3 bulan, tetiba dapat panggilan wisuda. Posisi saya sudah ikut kakanda ke Banda Aceh. Jujur saja saat itu kondisi keuangan kami masih belum mapan (bukan berarti sekarang sudah mapan, setidaknya lebih temoto lah ya, hehe). Namanya baru selesai kuliah gres bulan Maret, bulan Aprilnya nikah, awal Mei ikut ke Banda Aceh, lalu tengah Juli harus ke Jember. Kalau tak ingat yudisium dan wisuda yang saya ikuti adalah syarat untuk mendapatkan ijazah kelulusan, malas kali lah rasanya ikutan ceremony macam tu.

Akhirnya diputuskan saya seorang diri saja berangkat ke Jember, tanpa kakanda. Sepekan di Jember, saya ngemper-ngemper numpang kamar sama kawan-kawan yang masih tersisa, sambil menyelesaikan semua urusan peradministrasian terkait ijazah. Maklumlah harga tiket Banda Aceh – Jakarta – Surabaya – Jember seorang diri saja, lumayan menguras kantong kami. Sayang uang rasanya jika harus menyewa kamar kost dengan harga satu bulan dan hanya ditempati selama sepekan. Alhamdulillah ada kawan yang berbaik hati mau berbagi kamar dengan saya dan dua kawan lain.

Singkat cerita, tiba due date wisuda saya tak didampingi kakanda. Papa dan adik saya yang datang dari Solo demi memenuhi undangan wisuda. Sebel, mangkel, kesel, rasanya. Saya yang sudah punya pendamping ‘resmi’ eehh nggak bisa hadir. Sedangkan kawan-kawan saya yang lain sampai rela ‘mencari’ pendamping.

Oiya, tepat sebelum papa dan adik saya berangkat ke Jember, pake acara kecurian dooong. Baju kebaya yang rencana akan saya pakai, hilang. Termasuk seluruh isi tas papa yang berisi perangkat dokumen saya yang masih tertinggal. Fiyuh… Udah mah pendamping resmi tak bisa hadir, papa kecurian, dokumen-dokumen penting saya raib kala itu. But life must go on.

Kedua, bulan Desember 2013 saya musti melaksanakan wisuda strata 2 di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Saat itu saya seorang diri bersama mas QSD di kamar kost yang memang sudah saya bayar hingga waktu wisuda tiba. Saya adalah ibu baru menjelang dua bulan, bahkan nifas saja belum selesai, masih gagap dengan cara merawat bayi, seorang diri pula.

Pagi hari saya mandikan dia, lalu saya tidurkan, baru saya mencari sarapan. Siang dan malam saya makan sekenanya. Bisa nitip ke adik-adik kost, alhamdulillah. Kalau tak bisa, yaa sudah. Kemana-mana jalan kaki sambil nggembol mas QSD. Oiya, kesulitan saya kala itu adalah menitipkan asip. Di kost yang saya tempati tak ada kulkas. Padahal asi saya sedang deras-derasnya. Akhirnya saya musti menitipkan asip di kost salah seorang kawan kuliah. Padahal jarak kostnya dari kost saya lumayan bikin gempor kaki jika berjalan sambil gendong QSD. Akhirnya saya musti pintar-pintar atur waktu perah, supaya asip tidak basi dan sekali saja berjalan kaki menitipkannya. Tak ada cooler bag sebagai alat bantu.

Dua pekan berjalan demikian. Pokoknya kemana-mana pasti gendong mas QSD. Ke kampus ambil toga bawa dia, ke fotokopian juga gendong dia, ke acara gladi resik saya juga satu-satunya yang nggembol bayi, bahkan ke acara pelepasan juga sambil bawa dia. Yaa mau gimana lagi. Mama saya baru bisa hadir malam hari ketika besok adalah hari wisuda. Saya sampai pada taraf cuek bebek dengan tatapan aneh orang-orang kala itu.

Singkat cerita tiba due date wisuda, lagi-lagi kakanda tak bisa mendampingi saya. Bahkan mama yang datang seorang diri tak bisa masuk ke dalam gedung. Mama menunggui mas QSD di luar. Pagi hari sebelum saya masuk ke gedung wisuda, saya perah asi untuk mas QSD. Alhamdulillah bisa dapat satu botol penuh. Setidaknya aman untuk setengah hari saya tinggal. Mama harus segera kembali ke Solo selepas acara wisuda selesai, sedangkan saya harus tinggal sepekan lagi supaya bisa ambil ijazah beserta transkripnya.

Dua pekan saya di Purwokerto, ada sekitar 15an kantong asip. Ketika kembali ke Jakarta, asip tersebut saya titipkan di freezer yang tersedia di gerbong makan. Alhamdulillah petugas KAInya welcome, mempersilakan saya menitipkan asip. Perjalanan berdua saja dengan mas QSD, dua pekan membersamai mas QSD kala itu, adalah pengalaman yang luarrrr biassssaaaa. Membuat saya makin bakoh, makin setrong.

Ketiga, tanggal 30 Maret 2016 kemarin ini, akhirnya kakanda gantian yang musti menjalani prosesi wisuda. Alhamdulillah,, setelah dua tahun kakanda berjibaku dengan kubangan tugas, ujian, dan ancaman DO yang silih berganti. Akhirnya wis sudah, rampung juga. Dua tahun yang luarrr biasssa. Pengalaman membersamainya sungguh tak akan terganti. Saya membersamai lelaki yang tangguh. Lelaki yang siap membagi pikirannya antara kuliah, kerja sambilan, dan keluarga.

Tapi lagi-lagi ada drama di wisuda ini. Saya tak mungkin mendampinginya masuk ke dalam gedung. Hahahha,,, dua kali saya wisuda dia tak mendampingi. Biarlah kali ini saya pun tak mendampinginya. Saya bersama dengan dua istri hebat lain yang juga bernasib sama dengan saya, menunggui para suami dari luar gedung sambil momong bocah. Hehe.. Yaa mau gimana lagi.

Berkali-kali saya ucap syukur alhamdulillah ketika prosesi wisuda kakanda berjalan. Saya menungguinya dari luar gedung dimana telah disediakan dua televisi supaya bisa tahu apa yang terjadi di dalam gedung. Oiya,, wisuda kakanda kali ini menjadi kado terindah dimilad ke tiiiiitttt nya. Alhamdulillah,, pecah bisul ya, Kanda. Barakallah… Doa widhya, semoga selalu sabar, selalu ikhlas, dimanapun tempatnya i’ll come along (tjiyeh). Kita sama-sama merintis hidup ya, Kanda. Merintis kehidupan akhirat dengan jalan kehidupan dunia. Love you as always, Nda.

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.