Uncategorized

Seputar Difteri

Baru-baru ini Indonesia dihebohkan dengan kejadian luar biasa difteri. Baiklah mari kita bahas sedikit tentang difteri. Difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae. Bakteri ini bisa menyebabkan penyakit berbahaya hingga kematian.

Toksin dari bakteri ini bersifat patogen yang mengakibatkan kematian lantaran menyumbat saluran nafas bagian atas. Gejala awal biasanya ditandai dengan suhu tubuh meningkat di atas 38°C, sulit menelan, lalu muncul membran atau selaput berwarna putih keabu-abuan yang mudah robek. Pada penderita lebih lanjut akan mengalami peradangan di lapisan dinding jantung bagian tengah, gagal ginjal, gagal napas, dan gagal sirkulasi.

Penularan penyakit ini melalui droplet air liur penderita. Bisa saat penderita bersin atau batuk, lalu liur tersebut mengenai barang yang dipegang oleh penderita.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek membeberkan data penderita difteri. Sepanjang Januari hingga November 2017, pihaknya telah mendapat laporan sebanyak 591 kasus. Angka kematian mencapai 32 kasus. Atas meningkatnya wabah difteri, Kementerian Kesehatan mencanangkan Outbreak Response Immunization (ORI). Program ini dimulai 11 Desember 2017.

Seheboh itu kah sampai perlu diadakan ORI? Oke. Baiklah. Indonesia pernah dinyatakan bebas difteri pada tahun 1990 lho. Kemudian ditemukan kembali pada tahun 2003. Sejak itu, jumlah kasus penderita difteri terus meningkat. Pada tahun 2007 terjadi 187 kasus. Puncaknya pada tahun 2012 yaitu sebanyak 1192 kasus. Hingga 2017 jumlahnya memang menurun, namun selalu dikisaran angka ratusan.

Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1501/ MENKES/PER/X/2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu, apabila ditemukan satu saja kasus yang dinyatakan positif secara uji klinis di laboratorium, itu sudah merupakan kejadian luar biasa. Lebih lanjut Nila Moeloek menyatakan KLB sebenarnya warning bukan wabah. Atas temuan kejadian tersebut, ORI diberlakukan untuk mencegah tersebarluasnya difteri. 

Juru bicara Kementerian Kesehatan, Oscar Primadi, menambahkan munculnya KLB Difteri ada kaitannya dengan adanya immunity gap. Bisa diartikan sebagai kesenjangan atau kekosongan kekebalan di kalangan penduduk di suatu daerah. Kekosongan kekebalan ini terjadi akibat adanya akumulasi kelompok yang rentan terhadap difteri. Kelompok yang rentan terkena difteri ini tidak mendapat imunisasi atau tidak lengkap imunisasinya.

Ada beberapa faktor penyebab munculnya kelompok rentan terkena difteri.

Pertama, banyak orangtua yang tidak tanggap dan enggan memberikan imunisasi DPT terhadap anak mereka. Hanya karena takut pada efek yang akan ditimbulkan pasca imunisasi berkaitan dengan suhu badan yang naik.

Kedua, munculnya efek ‘tidak percaya’ terhadap vaksin. Lantaran sebelumnya memang pernah beredar vaksin palsu beberapa waktu yang lalu.

Ketiga, rendahnya pendidikan orangtua yang bisa saja mempengaruhi perilaku keluarga. Orangtua yang memiliki pendidikan rendah, cenderung kurang memiliki pengetahuan terkait pola hidup sehat, bersih, dan seberapa pentingnya pemberian imunisasi bagi anak-anak mereka. Biasa ditemui di daerah pedesaan atau pedalaman.

Keempat, anggapan ‘haram’ terhadap vaksin juga ternyata dipegang teguh oleh sebagian masyarakat. Keyakinan yang timbul menyoal haramnya vaksin ini, telah membuat penyakit difteri itu sendiri tetap ada.

So, Bagaimana mencegahnya? Tidak ada upaya yang lebih efektif dalam mencegah terjadinya difteri selain pemberian imunisasi. Di negara maju dengan status gizi dan tingkat higienis yang tinggi, imunisasi tetap diberikan dalam upaya memberikan kekebalan khusus terhadap difteri. ORI terbukti efektif memutus mata rantai penularan. Oleh karena itu imunisasi DPT sebanyak 3 dosis pada bayi, yang memang telah lama dicanangkan, ditambah dengan imunisasi lanjutan pada Batita dan murid Sekolah Dasar, dapat memberikan kekebalan terhadap penyakit ini.

Sesingkat pandangan saya, program ini telah dicanangkan oleh pemerintah. Tanpa biaya pula. Kita hanya diminta datang ke posyandu atau puskesmas terdekat, untuk mendapatkan imunisasi bagi anak kita. Tidak sulit bukan? Ayo sama-sama kita sukseskan program ORI dari Kemenkes ini.

#onedayonepost
#nonfiksi
#tantanganartikel

Facebook Comments

2 thoughts on “Seputar Difteri”

  1. Memang segala sesuatu ada pasangannya . Ada penyakit pasti ada obat . Ada pro juga pasti ada kontra. Semoga selalu diberikan jalan yang lurus

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.